Studi itu melibatkan 454 orang perempuan dengan invasive ductal carcinoma (IDC) dan 590 orang penderita invasive lobular carcinoma (ILC) atau dua subtipe paling umum kanker payudara. Peneliti menemukan, tidak ada aspek yang berhubungan antara pemakaian bra dan peningkatan risiko IDC ataupun ILC.
Kemudian, terkait olahraga yang tidak hanya bermanfaat menurunkan beberapa jenis kanker, tetapi juga bisa membantu menjaga berat badan, memperbaiki tekanan darah dan kesehatan mental. Beberapa penelitian menunjukkan aktivitas fisik dikaitkan dengan penurunan risiko kanker payudara dan usus besar.
“Tidak ada kata terlambat untuk memulai program kebugaran, tidak masalah kapan Anda mulai, karena Anda akan melihat manfaat dari olahraga pada usia berapa pun,” kata profesor onkologi Georgetown University Medical Center’s Lombardi Comprehensive Cancer Center, Dr. Priscilla Furth.
Di Indonesia, kanker payudara termasuk yang menduduki peringkat tertinggi dialami perempuan. Menurut Aru, pada perempuan jenis kanker ini bahkan menduduki posisi pertama diikuti serviks, usus besar, hati dan nasofaring.
Data pada tahun 2020 menunjukkan, angka kasus kanker payudara mencapai 65.858 kasus per tahun. Sementara di dunia pada tahun yang sama, dilaporkan terdapat 2.261.419 kasus dengan angka kematian mencapai 600.000 pasien per tahun.
Bukan hanya faktor gaya hidup, seseorang yang punya riwayat keluarga terkena kanker payudara bisa berisiko mengalami kanker serupa di kemudian hari.
Para dokter menyarankan mereka melakukan deteksi dini mulai dari pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) usai periode menstaruasi, USG setiap 6 bulan sekali, dan mamografi 1-1,5 tahun sekali.
Apabila pencegahan sudah dilakukan, tetapi kanker tak terelakan, Alban menyarankan pasien menjadikan terapi medis sebagai yang utama dan menomorduakan perawatan dengan obat herbal atau alternatif.
“Herbal tidak dilarang, terapi pertama wajib terapi medis. Kalau masuk dengan herbal atau alternatif, bila masuk stadium satu dan sudah terdeteksi kanker maka herbal dinomorduakan karena kalau masuk dengan herbal duluan maka stadium akan naik dan tidak akan kembali,” kata dia.
“Kami tidak bisa lakukan terapi lain kecuali yang bersifat paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup,” sambung Alban.
Kemudian, terakit vaksinasi pada pasien kanker, Aru menuturkan, “Sekarang ini selesaikan kemoterapi baru vaksinasi COVID-19. Kita juga bisa mengambil timing antara kemo dan kemo, bisa dilakukan vaksinasi dengan harapan pembentukan antibodi. Kalau berbahaya sih tidak, hanya apa efektif atau tidak”.
Jadi, kanker walaupun seringkali dilabeli sebagai penyakit genetik, tetapi faktor risiko pencetus terbesarnya adalah gaya hidup tak sehat antara lain kurang berolahraga dan tak menerapkan pola makan tak sehat yang bisa berkontribusi pada bobot tubuh berlebih. (ant)
Editor: Erna Djedi







