Dia juga menuliskan, menurut antropolog Frieda Amran, rumah-rumah di Hindia Belanda umumnya tak memiliki cerobong asap sehingga anak-anak Belanda dan Indo menaruh sepatu berisi rumput dan cawan minuman kuda Sinterklas di bawah jendela.⁣⁣⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣Ada pula yang menaruh sepatu di bawah tempat tidur. Pagi-pagi, tanggal 5 Desember, semua anak Belanda, Belgia, dan Indo-Belanda di seluruh dunia bersorak gembira mendapatkan hadiah di sepatu mereka.⁣⁣⁣ Ada permen serta coklat tersebar di antara sisa-sisa rumput yang tak habis dimakan oleh kuda Sinterklaas.⁣ ⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Khusus di wilayah Hindia Belanda, perayaan Sinterklas juga ditunggu-tunggu dan dirayakan secara meriah. ⁣⁣⁣"⁣⁣⁣⁣⁣Demikian halnya di Banjarmasin. Hampir setiap kantor dan perusahaan mengadakan perayaan Sinterklas untuk anak-anak pegawai mereka. Biasanya pegawai Belanda memerankan Sinterklas dan pegawai Belanda maupun pribumi menjadi Piet Hitam," ujarnya.⁣⁣
⁣⁣⁣⁣⁣⁣
Seperti dilakukan pegawai pengadilan/Justitie Ambtenaar M.J.A. Oostwoud Wijdenes yang merayakan Hari Sinterklas di Banjarmasin, tahun 1930-1940.⁣⁣ Dalam perayaan tersebut, Wijdenes mengajak N. Guldenaar yang berperan sebagai Zwarte Piet.⁣⁣⁣⁣⁣ Di unggahannya itu, dia juga memposting beberapa foto Sinterklas, Piet Hitam dan suasana kemeriahan perayaan Natal di Indonesia tempo dulu. (brs)

Editor: Yayu Fathilal
⁣⁣⁣⁣⁣⁣