WARTABANJAR.COM, KUALA LUMPUR – Sidang Dewan Rakyat Malaysia berlangsung panas dan nyaris tak terkendali saat isu penyesuaian garis perbatasan Malaysia–Indonesia dibahas dalam sesi taklimat khusus parlemen, Rabu (4/2/2026).
Ketegangan memuncak setelah Perdana Menteri Anwar Ibrahim melontarkan teguran keras kepada anggota parlemen oposisi yang dinilainya menyampaikan pernyataan kasar serta menghina pemerintah dalam isu sensitif tersebut. Teguran itu justru memicu protes balasan dari kubu oposisi yang menilai ucapan Anwar tidak mencerminkan etika parlemen.
Perdebatan sengit antarkubu membuat suasana sidang ricuh, bahkan mendorong munculnya usulan agar polemik ini dirujuk ke komite khusus parlemen sebelum dilanjutkan dalam sidang pleno.
Anwar Bantah Tuduhan Pengkhianatan
Dalam sesi taklimat khusus terkait isu perbatasan, Anwar yang juga anggota parlemen Tambun secara tegas membantah tudingan oposisi yang menyebut dirinya telah mengkhianati negara dalam proses penyesuaian garis batas Malaysia–Indonesia.
“Saya tidak keberatan dengan pertanyaan dari oposisi, tetapi saya sangat menolak tuduhan dan fitnah yang mengatakan bahwa kami telah mengkhianati negara,” tegas Anwar di hadapan Dewan Rakyat.
Ia menekankan bahwa hubungan kerja sama antara Malaysia dan Indonesia selama ini berjalan baik di berbagai tingkatan pemerintahan.
“Kerja sama kedua negara, mulai dari pejabat lapangan hingga menteri dan perdana menteri, pada umumnya sangat baik. Yang menjadi masalah adalah pernyataan kasar dan tuduhan pengkhianatan yang tidak berdasar,” ujarnya.
Oposisi Protes Balik
Pernyataan Anwar memicu reaksi keras dari oposisi. Anggota parlemen Rosol Wahid (PN–Hulu Terengganu) mengajukan Standing Order 36(12) dengan alasan pernyataan Perdana Menteri bersifat tidak parlementer.







