5 Amalan Bulan Dzulhijjah, Termasuk Kurban Idul Adha

WARTABANJAR.COM – Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan istimewa dalam kalender Islam. Hal ini merujuk kepada penjelasan Ibnu Katsir dalam tafsirnya yang mengambill sumber hadits dari Imam Ahmad.

Bahwa ketika Rasulullah SAW sedang menunaikan haji wada’ terakhir, beliau bersabda “Ingatlah, sesungguhnya zaman telah berputar seperti keadaannya sejak hari Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan langit dan bumi. Satu tahun terdiri atas dua belas bulan.

Empat bulan di antaranya adalah bulan-bulan haram (suci), tiga di antaranya berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, yang lainnya ialah Rajab Mudar, yang terletak di antara bulan Jumada (Jumadil Akhir) dan Syaban.”

Baca Juga

Gelang Emasnya Dijambret, Warga Tabalong ini Rugi Rp 75 Juta

Namun ada dua bulan yang memiliki pahala amalanya tidak berkurang. Yak j Ramadan dan Dzulhijjah.

Dari Abu Bakrah RA, Rasulullah SAW bersabda:

شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ، شَهْرَا عِيدٍ: رَمَضَانُ، وَذُو الحَجَّةِ

”Ada dua bulan yang pahala amalnya tidak akan berkurang. Keduanya dua bulan hari raya yaitu Ramadhan dan Dzulhijjah.” (HR Bukhari 1912 dan Muslim 1089).

Berikut beberapa amalan yang dianjurkan Nabi Muhammad SAW pada Dzulhijjah.

1. Puasa Sunah, Terutama Puasa Arafah

Puasa menjadi amalan utama di awal Dzulhijjah. Hafshah RA meriwayatkan: “Empat amalan yang tidak pernah ditinggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: puasa Asyura’, puasa sepuluh hari di Dzulhijjah, puasa tiga hari tiap bulan, dan dua rakaat sebelum Subuh.” (HR Ahmad)

Puasa yang dimaksud adalah dari tanggal 1–9 Dzulhijjah, terutama hari Arafah pada tanggal 9. Mengenai keutamaannya, Rasulullah bersabda (HR Muslim, dari Abu Qatadah): “Puasa Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”

Dalam hadits lain riwayat Imam Ahmad, Rasulullah memberi panduan kepada seorang sahabat dari Bahilah mengenai puasa sebulan penuh, lalu mengarahkan untuk cukup berpuasa di bulan Ramadan dan bulan-bulan mulia lainnya.

2. Mengumandangkan Takbir

Takbir disunnahkan selama hari-hari Dzulhijjah, terutama sejak tanggal 1 hingga akhir hari Tasyriq. Disuarakan dengan lantang oleh laki-laki dan lirih oleh perempuan, baik di rumah, pasar, jalanan, hingga masjid.

Imam Bukhari meriwayatkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah bertakbir di pasar, lalu masyarakat pun mengikuti takbir mereka. Hal ini menjadi pengingat sunnah yang mulai ditinggalkan oleh banyak orang.

Takbir bisa dilakukan secara mutlak kapan saja, dan juga muqayyad (setelah shalat fardhu).