Kalsel Berduka, Abah Guru Danau Meninggal Dunia, ini Profil Beliau

WARTABANJAR.COM, AMUNTAI- Dunia kerohanian Banua berduka cita hari ini, Jumat (2/2/2024).

Salah satu ulama terkenal Kalsel, K.H. Asmuni atau Abah Guru Danau, Jumat 2 Februari 2024 meninggal dunia pada pukul 16.30 Wita di rumah beliau di Danau Panggang, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.

Kabar meninggalnya Abah Guru Danau ini ramai beredar di media sosial juga grup WhatsApp.

Di antaranya di Facebook Sahrian,Habar Kalsel dan Majelis Ta’lim Insanul Kamil Saw yang turut mengabarkan berita duka ini.

Assww.. Innalillahi Wainailaihi Rajiun.. Telah meninggal dunia KH.ASMUMI / Guru Danau Jumat 2 pebruari 2024 jam 16.30 wita di Rumah beliau di Danau Panggang., ” tulis pemilik akun Facebook Majelis Ta’lim Insanul Kamisl Saw.

Mengutip berbagai sumber, sosok Guru Danau merupakan panggilan akrab atau nama populer bagi Tuan Guru K.H. Asmuni.

Nama “Danau” yang dilekatkan pada beliau sebenarnya merupakan nama singkat dari tempat kelahiran dan tempat tinggalnya, yaitu Danau Panggang.

Sekadar informasi, Danau Panggang merupakan satu kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang terletak sekitar 24 km dari ibukotanya, yaitu Amuntai.

Mengutip dari tulisan Mujiburrahman, Abidin, & Rahmadi, 2012, Abah Guru Danau lahir pada tahun 1955 di Danau Panggang.

Ayahnya bernama Haji Masuni dan ibunya bernama Hajjah Masjubah.

Beliau adalah anak ketiga dari delapan bersaudara, ayahnya dari Danau Panggang sedang ibunya bersuku Dayak Bakumpai dari Marabahan yang pindah ke Danau Panggang.

Dari garis ibunya, Guru Danau menjadi bagian dari zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Guru Danau memiliki nama lain saat beliau kecil yaitu Zarkasyi.

Oleh seorang habib yang bernama Habib Salim Mangkatip nama itu diubah menjadi Asmuni yang menurut Guru Danau nama Asmuni itu berarti berharga.

Guru Danau hidup di lingkungan keluarga yang sederhana dan taat beragama.

Orang tuanya dahulu bekerja sebagai buruh kapal dengan pendapatan yang pas-pasan.

Walau demikian, tidak menghalangi semangat orangtuanya untuk membiayai pendidikan anak mereka di sejumlah pesantren baik yang berada di Kalimantan Selatan maupun di Pulau Jawa.

Guru Danau termasuk beruntung, karena tidak banyak orang di daerahnya yang mampu dan memiliki kesempatan ke Pulau Jawa untuk belajar meski dalam waktu singkat.

Guru Danau menempuh pendidikan tingkat dasar di Madrasah Ibtidaiah Pesantren Mu‟alimin Danau Panggang (tamat tahun 1971) dan Madrasah Tsanawiyah Pesantren Mu‟alimin Danau Panggang (tamat tahun 1974).

Setelah itu dia meneruskan studinya di tingkat atas (aliyah/ulya) di Pesantren Darussalam Martapura (tamat tahun 1977).