WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Peringatan 400 tahun Syekh Yusuf Al-Makassari yang digelar di Museum Negeri Lambung Mangkurat, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Direktorat Promosi Kementerian Kebudayaan RI membawa pesan mendalam mengenai penguatan kebinekaan dan spirit pembangunan bagi generasi muda.

Juga, mendorong revitalisasi pemikiran Syekh Yusuf sebagai pahlawan nasional berkaliber dunia.

Penelaah Teknis Kebijakan Direktorat Promosi Kementerian Kebudayaan RI, Dr Ishak Octovianus Manafe membeberkan keteladanan utama dari Syekh Yusuf terletak pada konsistensinya merawat persatuan bangsa.

”Pertama tentu kebinekaan lewat persatuan, itu yang paling pokok. Karena perjuangan apapun, baik di masa pra-kemerdekaan maupun kemerdekaan, selayaknya manusia perlu adanya rasa bersatu untuk mencapai tujuan bersama,” ujarnya kepada awak media, Kamis (5/11/2026). 

Ishak memaparkan pendekatan persatuan yang digaungkan Syekh Yusuf kala itu dibangun melalui syiar ajaran Islam yang menyejukkanyang  turut menjadi fondasi historis yang memperkokoh Indonesia. 

Baca Juga Tiga Prajurit TNI Korban Meninggal Jatuhnya Helikopter Water Bombing Karhutla di Seruyan Kalteng

Baca Juga Jadwal Listrik Padam di Banjarmasin Banjarbaru dan Batola, Cek Wilayah Terdampak

”Yang juga memutuskan kita Indonesia sebagai salah satu kekuatan Islam terbesar di dunia,” paparnya.

Selain persatuan, keteladanan kedua yang dinilai sangat relevan dengan kondisi zaman saat ini adalah spirit pantang menyerah dalam mengamalkan daya tahan pembangunan.

Ishak mengaitkan rekam jejak sejarah Syekh Yusuf sewaktu menghadapi kekuatan kolonial VOC Belanda dalam mempertahankan kekayaan sumber daya alam nusantara.

”Spirit dalam membangun itu macam-macam, kalau kita lihat sejarah bagaimana beliau mengamalkan pengamanan sumber daya alam kita dari VOC. Sudah pastinya selanjutnya tugas kita melestarikan,” tegas Ishak.

Terpilihnya Kalimantan Selatan sebagai lokasi pelaksanaan Temu Narasi yang merefleksikan  400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari bukan tanpa alasan, Ishak mengungkapkan adanya benang merah sejarah keislaman yang kuat di tanah Banua.

”Ternyata ajaran-ajarannya meluas kepada teman seangkatan maupun penerusnya, termasuk salah satunya Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari,” terangnya.