”Bangunan yang terbakar merupakan gudang kayu dan bagian dapur semi permanen, bukan rumah induk,” paparnya. 

Di luar penanganan Karhutla, DPKP Kabupaten Banjar juga mencatat total kebakaran permukiman murni sejak Januari hingga Oktober 2026 yang mencapai 43 kejadian.

Kasyaf membeberkan faktor korsleting listrik masih mendominasi pemicu utama kebakaran permukiman di Kabupaten Banjar sebesar 70 persen. 

”Sisanya 20 persen akibat kompor atau lilin, dan 10 persen faktor lainnya. Total kerugian material kebakaran permukiman tahun ini mencapai kurang lebih Rp 4,2 miliar,” pungkasnya. (wartabanjar.com)