Dilema Karhutla di Kabupaten Banjar, Bara Tersembunyi di Dalam Tanah hingga Air Minim
WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan menghadapi tantangan berat dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selama musim kemarau 2026.
Selain dihadapkan pada ancaman ratusan titik api, fokus utama penanganan saat ini diarahkan ke wilayah berstruktur lahan gambut.
Kepala Bidang Pemadam, Penyelamatan, dan Sarpras DPKP Kabupaten Banjar, Muhammad Kasyaf menjelaskan hal tersebut dilakukan lantaran pemadaman satu titik api di lahan gambut bisa menghabiskan hingga delapan tangki air.
”Tantangan terbesarnya ada di dalam tanah. Sering kali api di permukaan kelihatan sudah padam, padahal bagian dalamnya masih menyimpan bara dan bisa menyala lagi,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (29/10/2026).
Kendala pemadaman di lahan gambut makin bertambah karena sumur atau sumber air di sekitar lokasi mulai mengering.
Untuk menyiasatinya, Kasyaf menyebutkan armada pemadam terpaksa mengambil pasokan air cukup jauh dari Pos Sektor Gambut.
Kondisi geografis dan akses jalan yang sulit juga menuntut taktik khusus dari para personel di lapangan.
Baca Juga 145 Karhutla Terjadi di Kabupaten Banjar, Dua Kasus Rusak Bangunan Warga
Baca Juga U-Turn Karang Rejo Banjarbaru Ditutup Permanen, Belokan Jalan Angkasa Masih Dievaluasi
Jika armada besar tidak bisa masuk ke titik api, Kasyaf mengatakan pihaknya mengerahkan personel dengan membawa mesin pompa jinjing.
”Biasanya armada diparkir di tempat yang memungkinkan, lalu personel masuk membawa mesin pompa jinjing dan menyambung selang sampai beberapa rol agar bisa menjangkau titik api,” terangnya.
Di balik kendala medan tersebut, Kasyaf mengungkapkan DPKP Kabupaten Banjar juga dihadapkan pada persoalan keterbatasan perlengkapan keselamatan.
”Hingga saat ini kami belum punya Alat Pelindung Diri (APD) khusus Karhutla,” paparnya.
Akibatnya, personel terpaksa turun ke lapangan menggunakan baju pemadam gedung berbahan Kevlar yang tebal dan berat.
Kasyaf menjelaskan, pakaian ini dirancang khusus untuk menahan panas bangunan, sehingga sangat menguras tenaga saat dipakai di area terbuka.
”Karena pakaiannya berlapis-lapis, ini sangat menguras tenaga kalau dipakai di lapangan terbuka saat menangani Karhutla,” ungkapnya.