WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Sebanyak 145 kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tercatat melanda wilayah Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan sepanjang kurun waktu Agustus hingga Oktober 2026.

Meski dilanda ratusan titik api selama musim kemarau, mayoritas Karhutla berhasil dipadamkan di area lahan tanpa sampai merembet ke permukiman padat penduduk.

Kepala Bidang Pemadam, Penyelamatan, dan Sarpras DPKP Kabupaten Banjar, Muhammad Kasyaf mengatakan hanya ada dua kasus Karhutla yang terkonfirmasi sempat merembet hingga merusak bangunan milik warga.

”Dua lokasi di perbatasan lahan dan permukiman itu terjadi di Kecamatan Gambut dan Kecamatan Beruntung Baru pada September lalu,” ujar Muhammad Kasyaf saat dikonfirmasi, Kamis (29/10/2026).

Penjalaran api di dua kawasan tersebut terjadi lantaran posisi bangunan berada tepat di bibir lahan. Padahal, jarak rata-rata titik api Karhutla dengan rumah warga berada lebih dari 200 meter.

Meski api sempat menyentuh bangunan warga, Kasyaf memastikan seluruh penghuni berhasil diselamatkan tanpa ada korban jiwa maupun luka-luka.

”Warga di dua lokasi terdampak berhasil dievakuasi lebih awal oleh ketua RT dan tim damkar,” jelasnya.

Baca Juga Cabai Rawit Hijau di Pasar Tanjung Tabalong Capai Rp160 Ribu per Kilogram

Baca Juga Banpres Karhutla Rp10 Miliar, Pemkab Tabalong Akan Beli Tujuh Mobil Tangki dan 180 Mesin Pemadam

Keberhasilan menekan dampak Karhutla di Kabupaten Banjar tidak lepas dari kesigapan tim gabungan di lapangan. 

Rata-rata waktu tanggap (response time) petugas tercatat kurang dari 15 menit setelah laporan diterima.

Selain kecepatan petugas, kondisi geografis Banua juga menjadi salah satu faktor pendukung yang memudahkan proses pemadaman di area perbatasan permukiman.

”Kawasan lahan dan permukiman di sini umumnya dipisahkan oleh parit atau sungai kecil, sehingga api bisa disekat sebelum mendekati rumah penduduk,” tambahnya.

Atas insiden penjalaran api di Gambut dan Beruntung Baru tersebut, Kasyaf menyebutkan total kerugian material ditaksir berada dalam skala kecil, yakni sekitar Rp 85 juta.