WARTABANJAR.COM, TANJUNG – Pemerintah Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, mengembangkan budidaya ayam petelur untuk meningkatkan ekonomi masyarakat desa sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan telur dari luar daerah.

Program ini diawali dengan pemberian bantuan sebanyak 1.500 ekor ayam petelur siap produksi kepada delapan kelompok tani di Kecamatan Pugaan dan Banua Lawas.

Kepala Bidang Peternakan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Tabalong, drh. Suwandi, mengatakan sosialisasi telah dilakukan kepada kelompok tani yang masuk dalam klaster peternakan ayam petelur di kedua kecamatan tersebut.

"Tujuannya untuk melakukan tata kelola ayam petelur di Kabupaten Tabalong, sekaligus sebagai upaya pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan ekonomi desa," kata Suwandi pada wartabanjar.com, Selasa (13/10/2026).

Selain mendorong perekonomian masyarakat, program tersebut diharapkan dapat meningkatkan produksi telur lokal untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan bergizi dan membantu upaya penanganan stunting di Tabalong. 

Baca Juga Petani Karet Tabalong Tak Bisa Nikmati Harga Rp 20.000 per Kilogram

Baca Juga Petugas Kewalahan Memadamkan Api Karhutla di Jejangkit Batola

Dari delapan kelompok tani penerima bantuan, masing-masing empat kelompok berasal dari Kecamatan Pugaan dan Banua Lawas. Ayam yang disalurkan didatangkan dari Banjarmasin dan Pelaihari.

Pemilihan kedua kecamatan di wilayah selatan Tabalong itu didasarkan pada kebiasaan masyarakat setempat dalam beternak unggas.

Menurut Suwandi, secara sosial dan budaya, masyarakat Pugaan dan Banua Lawas telah terbiasa memelihara unggas sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut dinilai dapat mendukung pengembangan usaha ayam petelur.

Diuraikan Suwandi, pengembangan budidaya ayam petelur juga diarahkan untuk meningkatkan kemandirian Tabalong dalam memenuhi kebutuhan telur masyarakat.

Saat ini, kebutuhan telur di Tabalong diperkirakan mencapai 45 juta butir per tahun. Sementara itu, populasi ayam petelur yang ada sekitar 60.000 ekor dengan produksi 7 juta butir yang masih belum mampu memenuhi kebutuhan daerah.

Berdasarkan data tersebut, produksi telur lokal masih jauh dari kebutuhan tahunan. Akibatnya, sebagian besar pasokan telur Tabalong masih bergantung pada daerah lain.