Ada momen sederhana yang selalu membekas. Anak Fikri yang berusia tiga tahun terkadang meminta melihat video ayahnya saat bertugas memadamkan karhutla melalui telepon genggam. 

Di tengah kesibukan dan risiko pekerjaan, hal itu menjadi pengingat bahwa ada keluarga yang menantinya pulang dengan selamat.

Dalam menjalankan tugas, Fikri bersama personel gabungan mengikuti apel dan pengarahan di posko sebelum menuju lokasi penanganan. 

Pembagian tugas dilakukan untuk mengoordinasikan personel BPBD provinsi, BPBD kabupaten, TNI, dan unsur terkait lainnya.

Menurut Fikri, dampak karhutla tidak hanya dirasakan petugas dan masyarakat melalui paparan asap, tetapi juga lingkungan serta satwa yang kehilangan habitatnya.

“Harapan kami, karhutla ini segera berlalu, asap cepat menghilang, dan kekeringan berakhir. Yang terdampak bukan hanya kita, tetapi juga orang lain dan alam, termasuk hewan-hewan,” tuturnya.

Di balik tugas berat memadamkan api, Fikri terus berjuang menjaga keselamatan masyarakat dan lingkungan. 

Baginya, ada harapan sederhana yang selalu menyertai setiap tugas: karhutla segera berakhir dan ia bisa kembali ke rumah dalam keadaan sehat untuk berkumpul bersama keluarga. (Wartabanjar.com)