Berjibaku Melawan Api Karhutla, Fikri Tetap Ingat Keluarga
WARTABANJAR.COM, MARTAPURA – Di tengah kepulan asap dan panasnya lahan gambut yang terbakar, Fikri Azmi Fahir, petugas BPBD Provinsi Kalimantan Selatan, tetap menjalankan tugasnya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di balik perjuangannya di lapangan, ada istri dan seorang anak berusia tiga tahun yang selalu menanti kepulangannya.
Fikri ditemui saat bertugas di kawasan Sambang Lihum, Jalan Gubernur Syarkawi, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Selasa (13/10/2026) sore.
Dia mengaku, menghadapi karhutla menjadi pengalaman mendebarkan, terlebih ketika api membakar lahan gambut yang berpotensi menyala kembali meski terlihat padam.
“Pengalamannya cukup mendebarkan. Menghadapi kebakaran hutan berbeda dengan kebakaran permukiman, apalagi di lahan gambut. Api yang terlihat padam ternyata masih bisa menyala lagi,” ujarnya.
Salah satu pengalaman paling menegangkan terjadi saat bertugas di kawasan KCG. Api yang sebelumnya berusaha dipadamkan tiba-tiba tertiup angin hingga mendekati unit mobil petugas.
Tim pun segera menyelamatkan diri dan mengamankan peralatan. Beruntung, seluruh petugas selamat.
Baca Juga: Perbaikan Pipa Bocor BPAM Banjarbakula di Sei Landas Kabupaten Banjar Akhirnya Rampung
Baca Juga: Meski Prioritaskan Penanganan Karhutla Ring 1, Muhidin Pastikan Daerah Lain Tetap Diperhatikan
Sejak 17 Juli 2026, Fikri bertugas di Posko Sambang Lihum. Pekerjaan ini menuntutnya membagi waktu antara tugas dan keluarga yang tinggal di Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala.
Perjalanan pulang-pergi menggunakan sepeda motor memakan waktu hampir satu jam.
Tantangan semakin terasa, ketika pemadaman berlangsung hingga pukul 22.00 atau 23.00 Wita.
Setelah seharian berjibaku dengan api, ia masih harus menempuh perjalanan pulang dalam kondisi lelah demi bertemu istri dan anaknya.
“Bagaimanapun, saya tetap ingin pulang dan menyempatkan waktu bersama anak dan istri,” katanya.
Keluarganya memahami tuntutan pekerjaan tersebut, meski mereka juga merasakan dampak karhutla. Bagi Fikri, dukungan keluarga menjadi penyemangat untuk terus menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab.