Kronologi Diduga Kawat Tertinggal dalam Jantung Pasien di Samarinda Kaltim, Kemenkes Turun Tangan
Ia diperiksa kembali oleh dr Kuntjoro. Dari pemeriksaan itu, keluarga disebut mendapat informasi terdapat dua sumbatan pada pembuluh darah jantung.
Keluarga kemudian disarankan mempertimbangkan tindakan bypass atau coronary artery bypass graft (CABG) di Kuala Lumpur atau Singapura.
Salah satu pertimbangannya karena di sana tersedia fasilitas dialisis selama 24 jam.
Hingga 20 Februari 2026 siang, kondisi Ediyanto disebut tidak kunjung membaik.
Keluarga akhirnya memutuskan membawa Ediyanto ke Singapura.
Baca Juga: Profil Kombes Steidy, Meninggal di Hari Ke-4 Jabat Kabid Humas Polda, Sehat saat Dilantik
Baca Juga: Ransel Hitam Tergantung di Dapur Itu Ternyata Berisi Jasad Bayi, Sempat 2 Kali Direndam
"Atas pertimbangan saran dokter dan kondisi kesehatan yang terus memburuk, keluarga memutuskan membawa Bapak Ediyanto ke Singapura untuk mendapatkan pengobatan," katanya.
Menurut Andy, RSUD AWS kemudian menerbitkan surat rujukan yang ditandatangani atau menjadi tanggung jawab dr MF dan dr Kuntjoro.
Keluarga juga menerima CD (compact disc) berisi rekaman video tindakan medis terhadap jantung Ediyanto.
"CD tersebut diberikan karena seharusnya berisi rekaman video tindakan medis dari awal sampai akhir tanpa ada jeda atau bagian yang terputus," ujarnya.
Ediyanto kemudian tiba di Mount Elizabeth Novena Hospital Singapura pada 21 Februari 2026.
Sehari kemudian, Ediyanto disebut menjalani tindakan kateterisasi ulang karena kondisinya dalam keadaan darurat.
Dari tindakan tersebut, keluarga mendapat informasi mengenai adanya benda asing berupa guidewire atau kawat yang putus dan tertinggal di jantung.
"Menurut informasi yang diterima keluarga, guidewire tersebut berkaitan dengan tindakan sebelumnya yang dilakukan oleh dr MF di RSUD AWS pada 19 Februari 2026," ucap Andy.
Tragisnya, guidewire tersebut tidak dapat diambil kembali dan akhirnya permanen tertanam di jantung Ediyanto.
"Guidewire atau kawat yang putus tersebut dinyatakan tidak dapat diambil kembali dan permanen tertanam di dalam jantung Bapak Ediyanto," ungkap Andy.