Kebutuhan terhadap metode pemadaman yang lebih efisien itu muncul setelah penanganan karhutla berlangsung selama sekitar dua bulan di Kalsel.

Kapolda menyebut kondisi kemarau yang masih cukup panjang berdasarkan ramalan BMKG membuat upaya pengendalian api dan asap perlu terus didukung inovasi.

”Agar tidak berdampak luas kepada masyarakat, dunia usaha, dan penerbangan yang ada di Kalimantan Selatan,” tegasnya.

Kapolda menambahkan, cairan surfaktan tersebut kini sudah dapat diperbanyak untuk digunakan oleh unsur yang terlibat dalam pemadaman.

”Alhamdulillah sudah bisa kita perbanyak dan akan kita bagikan kepada semua instansi yang terlibat dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan yang ada di Kalimantan Selatan,” ungkapnya. 

Pembahasan rakor tidak hanya berkaitan dengan titik karhutla, tetapi juga kondisi kekeringan yang mulai berdampak pada ketersediaan air.

Muhidin berencana meninjau langsung kondisi waduk Riam Kanan untuk memastikan kemampuan aliran air bertahan selama kemarau.

”Karena tadi kan ada laporan Riam Kanan kan menurun debitnya, nah ini kita harus memastikan ke sana,” tuturnya.

Menurutnya, yang perlu dipastikan bukan hanya kondisi debit saat ini, tetapi berapa lama aliran dari Riam Kanan masih mampu menopang kebutuhan air.

”Yang penting sampai kapan bisa bertahan saluran ini, saluran yang ada di Riam Kanan ini mengalirkan air yang ada di Riam Kanan,’ katanya.

Muhidin juga berharap hujan segera turun sehingga penanganan karhutla dan kondisi kekeringan di Kalsel mendapat dukungan alam.

”Mudah-mudahan kita berdoa lah dalam waktu dekat ini ada hujan,” pungkasnya. (wartabanjar.com)