Karhutla Kembali Menyala di Pengayuan, Api Merambat dari RT 1 hingga RT 2
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di kawasan Desa Pengayuan, Kelurahan Liang Anggang Selatan, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Api dilaporkan masih menyala hingga Sabtu (12/09/2026), setelah sebelumnya muncul sejak malam hingga pagi hari di wilayah RT 01 dan RT 02.
Kepala RT 02 Pengayuan, Hendra, mengatakan titik api kembali muncul setelah kebakaran terjadi sejak malam sebelumnya. Bahkan, kobaran api masih terlihat hingga saat dirinya memberikan keterangan.
“Kalau kebakarannya dari tadi malam sampai sekarang masih nyala,” ujar Hendra saat ditemui di Pengayuan, Sabtu (12/09/2026).
Menurutnya, kebakaran terjadi di kawasan yang berada dari wilayah RT 01 hingga RT 02. Salah satu titik api dilaporkan mulai terlihat sekitar pukul 05.30 Wita, dan baru berhasil dipadamkan sekitar pukul 12.00 Wita.
“Sekitar jam 05.30 sampai jam 12.00 baru bisa dipadamkan,” jelasnya.
Hendra memperkirakan area yang terdampak cukup panjang, dengan bentangan hampir mencapai satu kilometer.
Namun, ia menyebut bentuk lahan yang terbakar memanjang, sehingga luas pastinya masih perlu dilakukan pengukuran lebih lanjut.
“Kalau luasan, hampir satu kilometer, karena memanjang,” katanya.
Baca Juga: Wagub Kalsel Hasnuryadi Tinjau Lahan Kahutla dan Turun Langsung Lakukan Pemadaman
Di tengah kembali munculnya titik api, Hendra mengapresiasi keterlibatan petugas dan relawan yang menurutnya cukup banyak membantu masyarakat, dalam penanganan karhutla di Pengayuan.
“Alhamdulillah, petugasnya lumayan banyak. Sangat terbantu kita,” ujarnya.
Ia berharap penanganan dapat terus dilakukan karena kondisi lahan gambut, yang kering membuat potensi munculnya kembali api masih menjadi kekhawatiran warga.
Pada hari yang sama, Wakil Menteri Koordinator (Wamenko) Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq juga kembali meninjau kawasan Pengayuan.
Menurut Hendra, dalam kunjungan tersebut dibahas persoalan aliran air, dan rencana pembangunan kanal untuk membantu menjaga kondisi lahan saat musim kemarau.
“Ini masalah alur sungai. Yang ada di sini mau dibikin kanal menurut beliau. Jadi sementara musim kemarau dibuat sekat-sekat,” jelas Hendra.