Mahasiswa Kalsel Cegat Wapres Gibran, Sampaikan Keluhan Karhutla Soal APD Relawan hingga Pencegahan
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Tiga orang mahasiswa sampaikan aspirasi kepada Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan.
Hal tersebut terjadi, seusai Wapres Gibran mengunjungi Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Banjarbaru, Kamis (10/09/2026) sore.
Salah satu perwakilan mahasiswa, Muhammad Rizky, dari Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIHSA) Banjarmasin, menceritakan hasil diskusi mereka dengan Wapres Gibran kepada awak media.
Dalam pertemuan tersebut, mahasiswa menyoroti penanganan karhutla dari sisi pencegahan.
“Kami menyampaikan, bagaimana kemudian pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat mampu memberikan langkah preventif,” ujar Rizky.
Perhatian mahasiswa juga mencakup kondisi relawan swasta, yang ikut turun langsung dalam penanganan karhutla.
Rizky berharap, para relawan mendapat dukungan perlengkapan dan perlindungan selama menjalankan tugas di lapangan.
“Agar mereka bisa disejahterakan. Baik melalui bantuan APD, bantuan BPJS Ketenagakerjaan, dan lain sebagainya,” ucapnya.
Menurut Rizky, kebutuhan tersebut menjadi penting, karena relawan turut berada di lapangan bersama petugas dalam menghadapi karhutla.
Baca Juga: Wapres Gibran Temui Pasien Karhutla, Dokter RS Idaman Banjarbaru: Tahun Ini Asapnya Luar Biasa
Baca Juga: Wapres Gibran Pantau Penanganan ISPA Akibat Karhutla di RSD Idaman Banjarbaru
Ia berharap, persoalan karhutla di Kalsel dapat segera dituntaskan, termasuk kebutuhan APD bagi relawan yang masih memerlukannya.
“Kalimantan Selatan harus selesai dengan segala bentuk permasalahan dari karhutla ini,” ungkapnya.
Terkait tindak lanjut pembicaraan tersebut, Rizky mengatakan, mahasiswa akan mencoba membantu menghubungkan relawan dengan pihak yang dapat menindaklanjuti kebutuhan mereka.
Mereka juga akan menyampaikan persoalan tersebut, kepada Wakil Gubernur Kalsel sesuai permintaan Gibran.
“Sebagaimana tadi arahan Pak Wapres Gibran kepada kami,” ungkapnya.
Selain dukungan terhadap relawan, mahasiswa juga menyoroti kondisi peralatan yang digunakan saat penanganan karhutla di lapangan.
Rizky menilai, keterbatasan peralatan dapat menjadi persoalan bagi personel yang langsung berhadapan dengan kebakaran.
“Alat-alat yang tidak memadai, kemudian itu juga berdampak pada diri yang hadir langsung,” jelasnya.