Hujan juga terjadi di sebagian wilayah Kalimantan Selatan yang berbatasan dengan Kalimantan Tengah pada Jumat (4/9).

“Alhamdulillah, operasi hujan buatan berhasil memicu hujan di sejumlah area rawan karhutla,” ujar Deputi Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup Irjen Pol Rizal Irawan dalam keterangannya dikutip Minggu (6/9).

Operasi modifikasi cuaca tersebut merupakan kerja sama Kementerian Lingkungan Hidup, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta TNI Angkatan Udara.

"OMC difokuskan untuk membasahi ekosistem gambut, mendukung upaya pemadaman darat, sekaligus menekan risiko perluasan kebakaran dan penyebaran asap," ucapnya.

Rizal menjelaskan, operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Barat berlangsung sejak 28 Agustus hingga 4 September 2026.

Selama periode tersebut, sebanyak 10 sortie penerbangan dilakukan dengan menyemai total 8.000 kilogram atau 8 ton natrium klorida (NaCl).

Sedang di Kalimantan Tengah, operasi berlangsung sejak 26 Agustus hingga 5 September 2026.

Hingga 4 September, tercatat sembilan sortie penerbangan dengan total bahan semai mencapai 7.200 kilogram atau 7,2 ton NaCl.

Menurut dia, setiap penerbangan OMC dilakukan berdasarkan analisis kondisi atmosfer secara presisi, termasuk pertumbuhan awan potensial, arah dan kecepatan angin, serta sebaran titik panas atau hotspot.

“Hujan yang turun di wilayah sasaran diharapkan efektif meningkatkan kelembapan tanah dan menghentikan potensi munculnya kembali titik api,” ujarnya.

Sebagai langkah lanjutan menghadapi dinamika cuaca, OMC di Kalimantan Barat dilanjutkan bersama BNPB pada 3–9 September 2026. (wartabanjar.com)