WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor, terus memantau perkembangan titik panas (hotspot) serta tingkat bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan Selatan.

Berdasarkan informasi yang dirilis BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor, update informasi hotspot dilakukan pada 2 September 2026 pukul 07.00 WITA, sementara sistem peringkat bahaya kebakaran lahan dan hutan Kalimantan Selatan berlaku untuk 3 September 2026.

Dalam peta pemantauan, titik panas terdeteksi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Sementara itu, peta Fire Weather Index (FWI) menunjukkan kondisi tingkat bahaya kebakaran, yang perlu menjadi perhatian di wilayah Kalsel.

BMKG menggunakan data dari sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar, di antaranya NOAA-20, S-NPP, TERRA, dan AQUA, untuk mendeteksi anomali suhu panas dibandingkan dengan wilayah di sekitarnya.

Pemantauan dilakukan pada siang dan malam hari untuk masing-masing satelit.

Namun, BMKG mengingatkan bahwa hotspot tidak selalu dapat terdeteksi, terutama pada wilayah yang tertutup awan maupun berada di area blank zone.

Karena itu, keberadaan atau tidak terdeteksinya titik panas melalui satelit, tidak secara langsung menjadi kepastian bahwa suatu wilayah terbebas dari kebakaran. Informasi tersebut perlu dikonfirmasi dengan kondisi di lapangan.

Baca Juga: Karhutla Banjarbaru, Alfamart Salurkan Bantuan Logistik untuk Relawan

Baca Juga: Kebakaran Semak Belukar di Jalan Mufakat Banjarbaru Dekati Penggergajian Kayu

BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor juga terus menyajikan informasi kondisi cuaca dan tingkat risiko kebakaran, sebagai bahan kewaspadaan masyarakat serta pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi karhutla.

Masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan selama periode rawan kebakaran, khususnya agar tidak melakukan pembakaran lahan yang dapat memicu meluasnya kebakaran. (Wartabanjar.com)