WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Bahasa Banjar mulai menghadapi tantangan di tengah kebiasaan anak-anak yang semakin akrab dengan gadget. 

Mereka lebih banyak diam karena asyik bermain game atau malah berkomunikasi dengan orang dari berbagai penjuru dunia.

Kondisi itu menjadi perhatian dalam Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) yang digelar Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, Kamis (20/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Disdik Banjar tersebut diikuti 99 peserta dari 19 kecamatan.

Baca juga: Diinisiasi Posyandu Tabalong Smart, Sejumlah Nenek Ikuti Lomba Rias Wajah Tanpa Cermin

Baca juga: Antung Berharap Festival Layangan Hias dan Bagalas Tabalong Kembali Digelar Tahun Depan

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar Liana Penny mengatakan FTBI menjadi salah satu upaya untuk kembali mengenalkan bahasa ibu kepada anak-anak.

“Kami ingin agar bahasa ibu kembali dikenal oleh anak-anak kita,” ujarnya.

Kebiasaan anak-anak menggunakan gadget dalam keseharian menjadi salah satu tantangan dalam menjaga penggunaan bahasa daerah. Penggunaan bahasa ibu di lingkungan keluarga pun dinilai mulai berkurang.

Liana melihat kondisi tersebut perlu dijawab dengan cara yang membuat anak-anak kembali dekat dengan bahasa daerah.

“Kita mulai merevitalisasi bahasa daerah agar mereka punya kebanggaan terhadap bahasa daerahnya masing-masing. Kalau di Banjar kita merevitalisasinya bahasa Banjar,” jelasnya.

FTBI tidak hanya mengajak peserta menggunakan bahasa Banjar, tetapi juga mengasah kemampuan mereka lewat sejumlah perlombaan. 

Lima cabang lomba yang digelar mengacu pada petunjuk teknis dari Kementerian Pendidikan.

“Tadi ada lomba Bapandir (berbicara), kemudian ada juga menulis puisi dan juga membacakannya,” terang Liana.

Ajang tingkat kabupaten ini menjadi tahapan lanjutan bagi peserta yang sebelumnya telah melewati seleksi di sekolah dan kecamatan.

Liana mengatakan, pemenang tingkat kabupaten nantinya akan melanjutkan ke tingkat provinsi.

“Nanti November kalau tidak salah ke tingkat provinsi,” ujarnya.

Liana berharap FTBI tidak berhenti sebagai ajang perlombaan, tetapi ikut menumbuhkan kecintaan anak-anak terhadap bahasa dan budaya daerah.