Sementara untuk pekerjaan yang berpotensi diperkuat oleh AI, muncul permintaan terhadap keterampilan-keterampilan baru, yang sebelumnya tidak banyak dicari perusahaan.

Berdasarkan temuan penelitian, keterampilan yang dibutuhkan perusahaan untuk pekerjaan lebih berpotensi diperkuat oleh AI: 

- Prompt writing: Kemampuan menulis instruksi yang tepat untuk mendapatkan hasil optimal dari alat-alat AI. 

- Literasi AI: Kemampuan memahami dan menggunakan alat-alat AI secara efektif dalam pekerjaan. 

- Kolaborasi manusia dan AI: Kemampuan bekerja berdampingan dengan sistem AI secara produktif dan efisien. 

- Aplikasi AI spesifik bidang: Penguasaan alat AI yang relevan dengan industri atau profesi tertentu. 

- Kemampuan penilaian situasional: Kapasitas membaca konteks dan mengambil keputusan kompleks yang tidak bisa diotomasi mesin. 

- Komunikasi interpersonal: Kemampuan berinteraksi dan membangun hubungan dengan orang lain yang sulit direplikasi AI. 

Menghadapi perubahan ini, Profesor Srinivasan merekomendasikan dua langkah utama bagi perusahaan. 

Pertama, berinvestasi dalam program pelatihan ulang bagi karyawan di posisi yang rentan tergantikan, terutama untuk mengembangkan keterampilan yang tidak bisa diotomasi, seperti penilaian situasional dan komunikasi interpersonal.  

Langkah kedua, mendorong peningkatan kemampuan AI secara berkelanjutan bagi karyawan di posisi yang bisa diperkuat teknologi ini. 

Srinivasan menegaskan, perusahaan sebaiknya memandang AI generatif sebagai alat untuk memperkuat kemampuan manusia, bukan sekadar alat pemangkas biaya.  

Ia juga mengingatkan, penelitian ini berfokus pada dampak jangka pendek di pasar tenaga kerja Amerika Serikat, sehingga dampak jangka panjang maupun efeknya di wilayah lain masih belum bisa dipastikan. (Wartabanjar.com)