Dia menjelaskan, keterlambatan top up dana operasional umumnya terjadi karena data saldo yang ada di sistem belum diperbarui secara rutin oleh pengelola SPPG. 

Akibatnya, sistem pusat masih membaca saldo dalam kondisi aman meskipun dana riil yang tersedia sudah berkurang karena pembayaran kepada supplier maupun kebutuhan operasional lainnya.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan operasional tergolong besar. 

Untuk satu dapur yang melayani sekitar 3.000 porsi makanan per hari, biaya pengadaan bahan pangan dapat mencapai puluhan juta rupiah setiap harinya.

“Biasanya kalau saldo mereka sudah sekitar Rp7 juta atau Rp8 juta, seharusnya sudah dilakukan top up. Karena mereka tidak bisa berbelanja lagi. Apalagi kalau sudah melayani 3.000 porsi, kebutuhan belanja bahan baku dalam satu hari bisa mencapai puluhan juta rupiah,” ungkapnya.

Dia menyebut dana bantuan operasional yang dikucurkan untuk satu SPPG umumnya mencapai ratusan juta rupiah dalam satu kali pencairan. Dana tersebut digunakan untuk menjamin kelancaran pelayanan MBG selama beberapa pekan.

“Biasanya besarannya sekitar Rp400 juta untuk kebutuhan dua minggu. Kalau dihitung satu bulan kurang lebih sekitar Rp900 jutaan,” tuturnya. (wartabanjar.com)