Jelang Maulid Kebutuhan Beras hingga Minyak Naik, Inflasi HST Jadi Perhatian Pemprov Kalsel
WARTABANJAR.COM, BARABAI – Kebutuhan sejumlah bahan pangan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) meningkat menjelang bulan Maulid. Kondisi tersebut ikut menjadi perhatian pemerintah daerah dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, di tengah posisi HST sebagai salah satu daerah dengan inflasi yang masih tinggi.
Gubernur Kalsel H Muhidin bersama Bupati HST Samsul Rizal dan jajaran Forkopimda meninjau harga dan ketersediaan bahan pokok di Pasar Keramat Barabai, Senin (10/08/2026).
Dalam peninjauan tersebut, sejumlah komoditas seperti beras, minyak goreng, bawang, ikan, ayam, daging, dan telur menjadi perhatian.
H Muhidin mengatakan, kenaikan kebutuhan pangan di HST memiliki kaitan dengan tradisi Maulid, yang dilaksanakan masyarakat secara bergiliran di berbagai desa selama hampir sebulan.
“Bulan Maulid ini akan dilakukan di Barabai, se-Kabupaten Hulu Sungai Tengah mengadakan Maulid secara bergiliran. Nah, itu yang mungkin menjadi penyebab kebutuhan beras sampai yang lainnya, minyak tadi meninggi,” katanya.
Menurutnya, HST saat ini berada di posisi ketiga daerah dengan inflasi tertinggi di Kalsel, setelah Kotabaru dan Tanah Laut.
Baca Juga: Calon Mahasiswa PSDKU ULM HST Dapat Antar-Jemput Gratis, Pemkab Siapkan Hibah Rp3 Miliar
Baca Juga: Gubernur Kalsel Hadiri Germas Ceria 2026 di HST, Perkuat Generasi Muda Sehat
Kabiro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Kalsel, Eddy Elminsyah Jaya, mengatakan inflasi Kalsel secara umum turun dari 4,47 persen menjadi 4,28 persen.
Meski demikian, pemerintah tetap melakukan pemantauan dan intervensi terhadap komoditas yang berpotensi mengalami kenaikan harga.
“Pasar Keramat Barabai merupakan salah satu pasar SP2KP (Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok),” katanya.
Menurut Eddy, intervensi dilakukan melalui operasi pasar dan Gerakan Pangan Murah. Pemerintah juga tengah menyiapkan Early Warning System (EWS) inflasi bersama BPS untuk mendeteksi komoditas yang mulai menunjukkan tren kenaikan.
“Dengan EWS nantinya kami mengharapkan kabupaten/kota bisa melihat komoditi-komoditi pangan mana yang trennya naik, sehingga bisa diintervensi lebih dini,” pungkasnya. (wartabanjar.com/Adew)