Meski chatbot mampu mempersingkat waktu layanan dari 11 menit menjadi dua menit, dan menghemat sekitar 2 juta dollar AS (sekitar Rp 32,7 miliar), hasilnya tidak cukup meningkatkan produktivitas maupun kualitas produk.

CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, mengakui perusahaan kebablasan menggunakan AI. Kini Klarna membuka lebih dari dua lusin posisi baru, dengan fokus pada peningkatan produktivitas dan pengalaman pelanggan.

Sedang Salesforce sempat memangkas 4.000 karyawan di divisi layanan pelanggan pada awal September 2025, sehingga jumlah staf dukungan menyusut hampir 50 persen dari 9.000 menjadi sekitar 5.000 orang.

CEO Marc Benioff menyebut, posisi tersebut digantikan agen AI yang bekerja secara otonom. Meski begitu, Salesforce tetap mempertahankan kombinasi tenaga manusia dan AI lewat program "omni channel supervisor", di mana keduanya bekerja berdampingan.

Begitu pula dengan IBM yang memangkas sekitar 2.700 karyawan pada akhir 2025, namun untuk 2026 justru berencana melipatgandakan perekrutan entry level hingga tiga kali lipat.

Chief Human Resources Officer IBM, Nickle LaMoreaux, menjelaskan deskripsi pekerjaan baru sudah dirombak total dan tidak lagi fokus pada tugas rutin seperti coding dasar yang kini bisa dikerjakan AI.

Kedepannya, IBM akan menitikberatkan pada kemampuan berinteraksi dengan klien dan memahami kebutuhan bisnis. IBM menilai memangkas rekrutmen entry level hanya menghemat biaya jangka pendek, tetapi berisiko menciptakan kekosongan talenta di masa depan. (Wartabanjar.com)