Menurutnya, sebagian pemilik anjing masih beranggapan bahwa vaksin dapat membuat anjing menjadi kurang galak dan tidak lagi tangguh saat digunakan berburu.

Padahal, kondisi tersebut hanya bersifat sementara sebagai respons tubuh terhadap vaksin.

“Biasanya setelah divaksin, hewan mengalami penyesuaian seperti demam atau nafsu makan menurun. Karena kondisinya lemah, masyarakat menganggap anjing menjadi kurang galak. Padahal itu hanya sementara dan merupakan hal yang wajar,” jelasnya.

Bayu menegaskan, rabies merupakan penyakit yang hampir tidak bisa disembuhkan apabila sudah menyerang hewan.

“Kalau hewan sudah terkena rabies, kemungkinan besar tidak akan sembuh dan akhirnya mati. Selain itu, rabies bisa menyebar apabila hewan yang terinfeksi menggigit manusia atau hewan lain. Karena itu, cara pencegahan yang paling tepat adalah vaksinasi,” tegasnya.

Ia mengimbau masyarakat yang memelihara hewan penular rabies seperti anjing, kucing, monyet, dan musang agar rutin melakukan vaksinasi sebagai langkah pencegahan.

“Anjing, kucing, monyet, dan musang yang dipelihara sangat dianjurkan untuk divaksin. Pencegahan paling efektif adalah vaksinasi,” pungkasnya.

Pada akhir Februari lalu, empat warga dari Desa Tilahan, Hantakan, Bulayak, dan Pasting dilaporkan menjadi korban gigitan hewan.

Hasil pemeriksaan laboratorium kemudian memastikan seekor anjing yang terkait kasus gigitan di Desa Tilahan, Kecamatan Hantakan, dinyatakan positif rabies.

(wartabanjar.com/Adew)

Editor Restu