WARTABANJAR.COM, BANJAR- Sejumlah pesan yang pernah disampaikan Rosita sebelum meninggal dunia masih terus diingat Nasir.

Pesan-pesan itu kembali terngiang setelah ibunya menjadi salah satu korban kecelakaan maut di Desa Lawahan (Tambak Babi), Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, pada Sabtu (23/5/2026) lalu.

Menurut Nasir, ibunya sempat menyampaikan sejumlah pesan kepada anggota keluarga sebelum kecelakaan terjadi.

“Nah, mama aku sama ponakan aku itu cuma ke keluarga aku yang lain sama temennya yang berfirasat itu. Ke istri kakak aku kasih pesan kalau nanti meninggal jasad mama jangan sampai dimalamkan,” ujarnya, Jumat (29/5/2026).

Selain kepada istri kakaknya, Rosita juga sempat menitipkan pesan kepada salah seorang saudaranya terkait tabungan yang dimilikinya.

“Terus pesan ke tante aku kalau mama ada nabung buat nanti kalau meninggal ada uang buat bayar ini itu, biar enggak nyusahin anak-anak mama,” katanya.

Nasir mengaku baru benar-benar mengingat pesan-pesan tersebut setelah kecelakaan yang merenggut nyawa ibunya terjadi.

Rosita merupakan satu dari tiga korban meninggal dunia dalam kecelakaan yang melibatkan alat berat grader di ruas Jalan Lawahan-Muara Halayung, Desa Lawahan, Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Sabtu (23/5/2026).

Dalam peristiwa yang sama, keponakannya, Muhammad Nor Dylan Fauzi, juga menjadi korban.

Pesan-pesan itu kini menjadi kenangan yang terus diingat keluarga.

Di luar pesan yang pernah disampaikan ibunya, Nasir juga belum bisa melupakan salah satu momen kebersamaan terakhir mereka.

Sekitar sepekan sebelum kecelakaan, Dylan disebut sangat ingin mengajak keluarganya menonton film horor bersama.

“Nah, seminggu sebelum kejadian ponakan aku itu ngajakin banget nonton film horor. Kami bertiga nonton habis itu,” ungkapnya.

BACA JUGA: Hampir Sepekan Kecelakaan Tambak Babi Kabupaten Banjar, Nasir Masih Sulit Percaya Kehilangan Ibu dan Keponakan

BACA JUGA: Guru Kenang Dylan, Siswa Rajin yang Jadi Korban Grader Maut di Tambak Babi Kabupaten Banjar

Kenangan itu masih membekas dalam ingatan Nasir hingga sekarang.

“Wah aku berasa trauma, nyesal nonton film itu jadinya,” lanjutnya.