Menurut Firman, tema panen padi dipilih untuk mengenalkan kepada anak-anak tentang proses panjang beras sebelum sampai ke meja makan.
Melalui pengalaman langsung di sawah, anak-anak diharapkan memahami bahwa menghasilkan makanan membutuhkan usaha dan proses yang tidak singkat.
“Kenapa kami mengambil tema panen padi ini, karena utamanya untuk mengenalkan pada keluarga, khususnya anak tentang bagaimana proses makanan yang sampai ke piring makannya. Bagaimana prosesnya ternyata membutuhkan effort yang luar biasa. Ini untuk menumbuhkan penghargaan anak atas makanan yang mereka dapatkan,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Firman juga menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menghargai makanan. Berdasarkan data yang dimiliki pihaknya, sekitar 40 persen makanan di dunia berakhir menjadi sampah, sementara di sisi lain masih banyak masyarakat yang mengalami kekurangan pangan.
Ia menilai peran orang tua sangat penting dalam memberikan pemahaman kepada anak, mengenai pentingnya menghargai makanan dan menjaga keseimbangan kebutuhan pangan.
Melalui program HAKTAWA, Perkumpulan Pusaka Tabalong berharap budaya berinteraksi tanpa gangguan gawai dapat diterapkan di lingkungan keluarga.
Dengan demikian, diharapkan tumbuh generasi yang lebih peka terhadap lingkungan, mampu menghargai makanan, serta memiliki hubungan keluarga yang lebih harmonis. (wartabanjar com/Suhardi)









