MinyaKita Langka, Harga Minyak Goreng di Pasar Bauntung Banjarbaru Melonjak
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Kelangkaan minyak goreng bersubsidi merek MinyaKita di Pasar Bauntung, Kota Banjarbaru, memicu kenaikan harga minyak goreng dalam satu bulan terakhir.
Pedagang kesulitan mendapatkan pasokan dari agen resmi, sehingga harus mencari stok dari luar jalur distribusi yang berdampak pada lonjakan harga di tingkat pengecer.
Salah satu pedagang, Suprapto, mengatakan stok minyak goreng bersubsidi sudah kosong sejak sekitar satu setengah bulan terakhir.
“Sudah satu bulan setengah ini tidak ada barang masuk dari agen,” ujarnya, Selasa (28/4/2026).
Akibatnya, pedagang terpaksa mencari pasokan dari pihak lain agar tetap bisa berjualan.
“Kami harus cari sendiri di luar, sudah dari tangan kedua,” jelasnya.
Kelangkaan paling terasa terjadi pada minyak goreng bersubsidi MinyaKita, terutama ukuran satu liter yang kini tidak tersedia di pasaran.
“MinyaKita satu liter sudah tidak ada lagi,” ungkapnya.
Sementara untuk kemasan dua liter, pedagang membeli sekitar Rp38.000 dan menjual di kisaran Rp41.000 hingga Rp42.000, naik dari sebelumnya Rp35.000 sesuai HET.
Tak hanya MinyaKita, kenaikan harga juga terjadi pada merek lain.
“Alif dua liter sekarang Rp42.000, Sunco sudah Rp48.000. Dulu masih di bawah Rp38.000,” sebutnya.
Menurut Suprapto, kenaikan harga mulai terasa sejak setelah Hari Raya Idulfitri.
“Naiknya setelah lebaran. Dari Surabaya katanya memang sudah susah barangnya,” ujarnya.
Kenaikan harga ini turut dirasakan pelaku usaha kecil, salah satunya Yadi, penjual lalapan di Banjarbaru.
Ia mengaku harga minyak goreng bersubsidi MinyaKita yang biasa digunakan terus mengalami kenaikan dalam waktu singkat.
“Awalnya beli sekitar Rp34.000, lalu naik ke Rp38.000, terakhir sudah Rp41.000 per dua liter,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat pelaku usaha makanan harus menyesuaikan biaya produksi agar tetap bisa bertahan.
“Naiknya cepat, jadi harus pintar-pintar mengatur biaya,” pungkasnya. (wartabanjar.com/IKhsan)
Editor Restu