Kisah Dewan Gaul Tanah Laut: Filosofi Biji Mangga dan Larangan Kata ‘Engko Wae’

WARTABANJAR.COM, PELAIHARI – Suasana hangat dan penuh tawa mewarnai kegiatan Reses Anggota DPRD Kabupaten Tanah Laut, Joko Pitoyo, yang digelar di Desa Tirtajaya, Kecamatan Bajuin, Senin (27/4/2026) malam.

Berbeda dengan kesan formal yang biasa melekat pada acara kedewanan, legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) Tanah Laut 1 yang meliputi Kecamatan Pelaihari dan Bajuin ini membungkus penyampaian aspirasi dengan gaya santai.

Kehadiran Joko Pitoyo yang didampingi istrinya, Giyarti yang juga sesama Anggota DPRD Tanah Laut menjadi daya tarik tersendiri bagi warga.

Sebagai Ketua Paguyuban Kuda Lumping Tanah Laut, Joko Pitoyo sering kali menyelipkan bahasa Jawa yang khas dalam pidatonya.

Hal ini terasa sangat dekat dengan mayoritas masyarakat Desa Tirtajaya yang merupakan suku Jawa.

Ia menekankan pentingnya mentalitas kerja cepat dan menghapus budaya menunda-nunda.

“Terakhir yang keempat, saya tidak mau mengatakan hal yang sering Bapak Ibu lakukan, yaitu selalu mengatakan ‘Engko wae’ (nanti saja). Nanti dulu, nanti saja. Kalau tiap hari ‘engko wae’, kapan kita bisa berhasil?” ujar Joko disambut gelak tawa warga.

Ia menegaskan komitmennya untuk selalu mengupayakan solusi bagi setiap keluhan masyarakat. Baginya, mengatakan “tidak mungkin” atau “tidak bisa” adalah bentuk pengingkaran terhadap amanah yang diberikan oleh Tuhan kepada wakil rakyat.

“Kalau sudah menyatakan tidak bisa, berarti berkas itu di tangan saya sudah saya tutup. Saya insyaallah akan berusaha bisa mewujudkan apa yang menjadi kebutuhan Bapak Ibu semua selama hal itu memungkinkan secara aturan anggaran,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Joko juga membagikan filosofi hidup yang unik mengenai “Biji-bijian”.

Ia mengibaratkan dirinya seperti biji mangga atau biji durian yang harus mampu tumbuh di mana pun ia ditempatkan, meskipun di tanah yang kering sekalipun.