“Sekalipun di tempat itu tidak pernah ada yang mengenal saya, saya harus seperti biji mangga. Dia akan mengakar dulu di dalam tanah, tidak terlihat, tapi terus berkembang hingga akhirnya tumbuh tunas, menjadi batang, dan bercabang,” jelasnya filosofis.
Ia menganalogikan kembang dan buah dari pohon tersebut sebagai hasil dari silaturahmi yang terjaga.
Menurutnya, buah dari politik adalah kebaikan yang bisa dipanen bersama oleh masyarakat setelah melalui proses komunikasi yang panjang.
“Apa yang ditanam pasti dipanen. Kalau umumnya menanam jagung panennya jagung, tapi saya ingin menanam kebaikan. Ukurannya tidak harus uang, saya datang menyapa Bapak Ibu sekalian pun itu sudah termasuk menanam kebaikan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Tirtajaya, Dardiansyah, mengakui peran aktif Joko Pitoyo dalam membimbing aparat desa untuk mengakses program pembangunan di tingkat kabupaten.
Ia menyebut komunikasi dengan sang legislator sangat cair, bahkan melalui pesan singkat.
“Beliau banyak memberi masukan kepada ulun (saya) bagaimana cara merapat ke dinas supaya bisa membangun desa. Kadang-kadang ulun sampai merasa tidak enak karena sering mengirim PDF proposal lewat WA, tapi beliau selalu mendukung,” ungkap Dardiansyah.
Acara yang berlangsung hingga larut malam ini ditutup dengan sesi diskusi santai. Warga yang hadir tampak antusias memberikan usulan mulai dari infrastruktur jalan, drainase, hingga bantuan sarana ibadah dan kesenian, yang semuanya dicatat langsung oleh tim staf ahli yang mendampingi Joko Pitoyo.(Wartabanjar.com/Gazali)
Editor: andi akbar







