Komunitas Trail Runners Meratus HST Berdiri Sejak 2019, Kini Beranggotakan 338 Orang
WARTABANJAR.COM, BARABAI– Komunitas lari lintas alam atau trail run di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) terus menunjukkan perkembangan dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah tren olahraga berbasis alam terbuka, Trail Runners Meratus (TRM) hadir sebagai wadah yang menghimpun ratusan pecinta lari lintas alam dari berbagai kalangan.
Komunitas ini tak hanya menjadi tempat berolahraga, tetapi juga ruang berkumpul bagi mereka yang memiliki minat sama dalam menjelajahi alam sambil menjaga kebugaran tubuh.
Koordinator TRM, Edy Supriatna, menyebut komunitas ini mulai terbentuk sejak 2019 dan terus mengalami perkembangan hingga sekarang.
“Saat ini, TRM telah menghimpun sekitar 338 anggota yang tergabung dalam grup komunikasi. Anggotanya beragam, mulai dari pelajar, pegawai, wiraswasta hingga atlet,” ujarnya kepada wartabanjar.com, Minggu (25/4/2026).
Menurutnya, trail run memiliki perbedaan dengan komunitas lari pada umumnya, terutama dari sisi medan yang digunakan.
“Secara olahraga sama-sama lari, tapi yang membedakan adalah tempatnya, yaitu di alam terbuka,” jelasnya.
BACA JUGA: DLH HST Bagikan 150 Tumbler Gratis di Hari Bumi 2026
Sejumlah jalur di wilayah HST seperti kawasan Gunung Sigaling dan Papagaran menjadi lokasi favorit untuk latihan.
Medan yang bervariasi, mulai dari jalur ringan hingga tanjakan menantang, menjadikan aktivitas ini tidak hanya menguji fisik, tetapi juga menghadirkan pengalaman tersendiri bagi para anggotanya.
Kegiatan latihan sendiri kini bersifat fleksibel, menyesuaikan kesepakatan anggota, meski pada awal terbentuknya komunitas, latihan rutin digelar setiap akhir pekan.
Selain menjaga kebugaran, kehadiran komunitas ini juga memberikan manfaat lain, yakni menjadi sarana menikmati keindahan alam sekaligus melepas penat dari rutinitas sehari-hari.
“Selain berolahraga, anggota juga bisa menikmati keindahan alam,” tambahnya.
Tak hanya berfokus pada olahraga, TRM juga turut berperan dalam mempromosikan potensi wisata daerah.
Hal ini dilakukan melalui dokumentasi kegiatan berupa foto dan video yang dibagikan di media sosial.