WARTABANJAR.COM, PELAIHARI – Pentingnya peran sentral perempuan dalam menavigasi pola asuh di tengah gempuran perbedaan generasi menjadi sorotan utama dalam dialog interaktif di Radio Tuntung Pandang.

Ketua TP PKK Kabupaten Tanah Laut, Hj. Dian Rahmat Trianto,
menegaskan bahwa kemandirian perempuan adalah fondasi utama bagi ketahanan keluarga modern, Senin (20/04/2026).

Dalam diskusi tersebut, Hj. Dian Rahmat menekankan bahwa kemandirian perempuan saat ini tidak boleh hanya dimaknai sebatas status, melainkan harus mencakup aspek finansial dan pola pikir yang berdaulat.

“Hal yang terpenting yang harus dimiliki oleh perempuan saat ini adalah kemandirian sosial secara finansial, mandiri secara pikiran,” tegasnya.

Ia berpendapat bahwa kemandirian ini sangat krusial agar seorang ibu memiliki pegangan yang kuat dan tidak goyah oleh intervensi pihak luar dalam mendidik anak.

Membedah Fenomena 'Gap Generation'
Hj. Dian secara kritis menyoroti fenomena gap generation yang sering kali memicu konflik nilai di dalam rumah tangga.

Ia mencatat bahwa orang tua dari generasi 90-an dan 2000-an sering kali terjebak dalam pola asuh "balas dendam"—ingin memberikan kebebasan penuh karena tidak ingin anak mereka merasakan kekakuan masa lalu.

Namun, ia mengingatkan agar hal ini tidak kebablasan.

“Gap generation itu harus diperkecil dengan angkatan dulu harus berbenah diri juga, terus mencari ilmu. Bahwa generasi sekarang ini tidak bisa diperlakukan lagi seperti yang dulu,” ungkap Dian.

Menurutnya, orang tua wajib "bertemu di tengah" dengan cara memperbarui pengetahuan mereka tanpa melepaskan prinsip dasar.

Adab Sebelum Ilmu: Pesan untuk Bunda PAUD
Sebagai Bunda PAUD, Hj. Dian memberikan penekanan khusus pada pembentukan karakter sejak dini.

Ia melihat adanya tren mengkhawatirkan di mana kecerdasan akademik terkadang tidak dibarengi dengan kesantunan sosial.
“Ada hal-hal yang patut orang tua pegang misalnya, ada etika. Kemudian harus mendahului dari ilmu,” tuturnya.

Ia memberikan contoh konkret mengenai kasus murid yang berani melawan guru, yang menurutnya berakar dari pola pembentukan karakter di rumah.