Ritual Temu Manten, Adat Pernikahan Jawa di Tabalong Tetap Lestari, Sarat Makna Filosofis

WARTABANJAR.COM, TANJUNG- Tradisi temu manten adat Jawa masih terus lestari di Kabupaten Tabalong.

Di sejumlah wilayah, khususnya kawasan eks transmigrasi, prosesi sakral ini hampir selalu menjadi bagian tak terpisahkan setelah akad nikah dilangsungkan.

Temu pengantin bukan sekadar seremoni, tetapi juga menjadi simbol penyatuan dua insan beserta keluarga besar mereka.

Nilai-nilai budaya dan filosofi kehidupan rumah tangga tersirat dalam setiap tahapan yang dijalankan.

Tugiran, seorang dalang yang memandu jalannya prosesi sekaligus melantunkan tuturan berbahasa Jawa, mengatakan tradisi ini telah lama mengakar di kalangan masyarakat Jawa di Tabalong.

“Ini warisan leluhur yang terus dijaga. Selain sebagai adat, juga menjadi pengingat nilai-nilai kehidupan berumah tangga,” ujarnya pada wartabanjar.com, Sabtu (4/4/2026).

Hal senada disampaikan Mujiah, seorang dukun manten yang telah lebih dari 10 tahun membimbing pasangan pengantin dalam prosesi tersebut.

Ia mengaku hingga kini permintaan untuk memandu temu manten masih cukup tinggi.

“Alhamdulillah masih banyak yang menggunakan adat ini. Bahkan dalam beberapa waktu terakhir, job temu pengantin lumayan banyak,” katanya.

Mujiah menjelaskan, dalam tradisi temu manten terdapat sejumlah tahapan yang masing-masing memiliki makna simbolis mendalam.

Prosesi diawali dengan penyerahan sanggan dari pihak mempelai pria berupa pisang raja setangkep, sirih ayu, benang lawe, dan janur sebagai lambang penghormatan dan “tebusan” kepada mempelai wanita.

Kemudian dilanjutkan dengan balangan gantal atau lempar sirih.

Kedua pengantin saling melempar sirih yang diikat benang putih—pengantin pria ke arah dada wanita, dan wanita ke arah kaki pria—sebagai simbol penyatuan hati.