Peringatan Nuzulul Quran di Aula Markas Korem, Ustadz Das’ad Latif Ingatkan Akhlak Pemimpin

WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN
Peringatan Nuzulul Qur’an 1447 Hijriah digelar di Aula Markas Korem 101/Antasari Banjarmasin pada Sabtu (14/3/2026) malam.

Acara diramaikan dengan kehadiran dai kondang Das’ad Latif dengan mengusung tema “Dengan Peringatan Nuzulul Quran Membentuk Mental Prajurit TNI yang Prima dan Memegang Teguh Nilai-nilai Tauhid untuk Indonesia Maju.”

Dalam ceramahnya, Ustadz Das’ad mencontohkan kisah kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab yang dikenal sangat berhati-hati dalam menjalankan amanah sebagai pemimpin umat.

Baca Juga Ini Bacaan Niat Zakat Fitrah untuk Anak Perempuan dan Laki-laki

‎Ia menuturkan, suatu malam Umar bin Khattab pernah menangis. Saat itu anaknya bertanya mengapa sang ayah menangis. Umar menjawab bahwa ia khawatir karena ada seekor unta yang terperosok akibat jalan yang rusak. Ia takut kelak harus mempertanggungjawabkan hal tersebut di hadapan Allah.

‎“Bayangkan, yang jatuh hanya seekor unta saja beliau sudah menangis. Bagaimana jika di daerah kita ada kendaraan yang jatuh atau kecelakaan karena jalan rusak? Tentu pemimpin juga akan dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.

‎Menurutnya, kisah tersebut menjadi pelajaran penting bagi para pemimpin agar selalu berhati-hati dalam menjalankan kekuasaan dan jabatan yang diamanahkan.

‎Ustadz Das’ad juga menegaskan bahwa Islam tidak melarang seseorang menjadi pemimpin. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat, salah satunya adalah pemimpin yang adil.

‎“Golongan pertama yang disebutkan adalah imamun adil, yaitu pemimpin yang adil. Ini menunjukkan betapa mulianya posisi pemimpin jika mampu menjalankan amanah dengan baik,” jelasnya.

‎Namun di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa jika seorang pemimpin menyalahgunakan kekuasaan, maka tanggung jawabnya di akhirat akan sangat berat.

‎Ia menambahkan bahwa tidak semua orang diberi kesempatan oleh Allah untuk memegang jabatan penting. Dari ratusan juta penduduk Indonesia, hanya segelintir orang yang dipercaya menjadi pemimpin, baik sebagai gubernur, pangdam, maupun pejabat lainnya.

‎Karena itu, menurutnya jabatan harus dipandang sebagai amanah yang harus dijaga dengan penuh kehati-hatian, keadilan, dan tanggung jawab demi kemaslahatan masyarakat.