Rangkaian ibadah biasanya dimulai sejak Magrib, kemudian dilanjutkan setelah Isya hingga selesai sebelum sahur.

Tidak Ada Paksaan, Tersedia Pilihan 1 hingga 30 Juz

Meski dikenal sebagai tarawih terlama di Indonesia, pihak pesantren menegaskan tidak ada paksaan bagi santri maupun jamaah untuk mengikuti 30 juz. Di masjid yang sama tersedia pilihan bacaan 1 juz, 5 juz, 10 juz, 15 juz, hingga 30 juz sesuai kemampuan masing-masing.

Kisah Imam Muda: Jaga Stamina dengan Pola Khusus

Salah satu imam tarawih 30 juz tahun ini adalah Ahmad Nahdi Hasyim (23), santri asal Pasuruan. Ramadan kali ini menjadi pengalaman pertamanya memimpin halaqah 30 juz sebagai imam utama.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur. Sejak menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di kelas lima diniyah, saya berharap bisa mendapat amanah ini,” ujarnya.

Untuk menjaga stamina selama delapan jam berdiri memimpin salat, Ahmad menjalani pola khusus. Ia beristirahat penuh di siang hari agar kuat pada malam hari.

“Saat berbuka biasanya saya minum kopi pahit dicampur sedikit garam, lalu makan telur ayam kampung mentah. Itu sudah jadi kebiasaan agar tidak mudah mengantuk,” jelasnya.

Selain menjaga kondisi fisik, ia juga memperkuat hafalan setiap hari selama beberapa bulan sebelum Ramadan.

Kampung Madinah dan Tradisi Tahunan

Salat tarawih superpanjang ini dilaksanakan di Masjid Pondok Pesantren Al Fatah Temboro, yang kerap dijuluki “Kampung Madinah” karena kuatnya nuansa keislaman di kawasan tersebut.

Tradisi ini telah berlangsung belasan tahun dan menjadi salah satu fenomena Ramadan paling unik di Indonesia. Dengan konsistensi menjaga hafalan dan kualitas bacaan, Ponpes Al Fatah Temboro terus memperkuat perannya sebagai pusat kajian Al-Qur’an yang tidak hanya menekankan kuantitas hafalan, tetapi juga kedalaman spiritual jamaah.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)

editor: nur_muhammad