Ia menilai Banjarmasin memiliki peluang besar dengan mengembangkan pengolahan sampah organik melalui maggot hingga 50 persen, memaksimalkan kompos sebagai pupuk, serta memperluas kerja sama RDF dan teknologi lanjutan seperti pirolisis plastik.
“Kalau sudah 50 persen terolah, itu baru layak diacungi jempol. Ini kerja keras, bukan kerja santai,” katanya.
Di sisi lain, Yamin juga menyoroti serius lemahnya koordinasi, belum sinkronnya administrasi, serta keterlambatan pengambilan keputusan yang berdampak pada pelaporan ke pemerintah pusat.
Ia menegaskan, peluang kerja sama dengan pihak ketiga, sekolah kejuruan, hingga skema perjanjian kerja sama (PKS) harus segera diputuskan.
“Kalau mau, kita tanda tangan. Jangan dibiarkan diam, karena masalah sampah ini tidak akan selesai kalau kita ragu-ragu,” ujarnya lagi.
Dalam kunjungan tersebut, Yamin langsung memanggil Kepala DLH Kota Banjarmasin, Alive Yoesfah Love, serta Kepala BPKPAD, Edy Wibowo, untuk segera memetakan hambatan teknis dan administratif.
Ia meminta langkah konkret dan terukur agar BRC benar-benar menjadi solusi, bukan sekadar bangunan.
“Kalau kita sudah niat, kita akan tegur terus sampai jalan. Sampah ini masalah nasional, dan Banjarmasin harus menunjukkan bahwa kita mampu menyelesaikannya,” pungkas Yamin. (Wartabanjar.com/atoe)
Editor Restu







