Dari hasil paparan tersebut, akan dilakukan identifikasi permasalahan, baik dari sisi sumber daya manusia, sarana prasarana, maupun akurasi dan pembaruan data pelaporan.
“Kegiatan monitoring dan evaluasi ini bukan sekadar rutinitas administrasi, tetapi sangat krusial untuk melihat sejauh mana capaian yang sudah dilaksanakan. Dari situ kita identifikasi kendala, mencari penyebabnya, lalu menentukan langkah intervensi yang tepat,” jelasnya.
Rahmadi menambahkan, fokus intervensi yang terus diperkuat antara lain peningkatan kualitas pelayanan antenatal care (ANC), pemantauan gizi ibu dan anak, pemenuhan kebutuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), serta pembaruan data pelaporan secara berkala dan akurat.
Menurutnya, perhatian terhadap gizi anak dan remaja juga menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi emas 2045. Edukasi dan pemantauan gizi sejak usia sekolah dinilai berperan besar dalam mencegah stunting di masa mendatang.
“Walaupun angka kematian ibu dan bayi di Kalsel menunjukkan tren penurunan, namun ini masih menjadi tantangan dan perlu kerja keras bersama agar dapat sejajar bahkan lebih baik dibanding daerah dan negara lain,” tegasnya.
Ia juga mengapresiasi upaya yang telah dilakukan pemerintah kabupaten/kota dalam meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan keluarga. Ia berharap, melalui pertemuan ini, sinergisitas semakin kuat sehingga target penurunan AKI, AKB, dan stunting dapat tercapai secara optimal.
Pertemuan Monitoring dan Evaluasi Pelayanan Kesehatan Keluarga tingkat Provinsi Kalimantan Selatan tersebut secara resmi dibuka dan diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret sebagai dasar perbaikan program ke depan. (Wartabanjar.com/MC Kalsel)
Editor Restu













