WARTABANJAR.COM, JAKARTA Sebuah peristiwa memilukan terjadi di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Provinsi NTT. Seorang siswa kelas IV SD berinisial Yohanes Bastian Roja (10) mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri, setelah sekian lama mengalami tekanan hidup dan kekurangan kebutuhan sekolah yang dasar.

Bupati Ngada, Raymundus Bena, mengungkapkan temuan awal tim lapangan terkait penyebab tragedi itu. Menurutnya, korban sering kali bertanya kepada ibunya mengenai status pencairan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk dapat membeli perlengkapan sekolah seperti buku dan pena. Namun, pencairan bantuan pendidikan itu tidak kunjung terlaksana karena kendala administratif keluarga.

Kendala Administratif Hambat PIP Bupati menjelaskan, proses pencairan dana PIP terkendala karena Kartu Tanda Penduduk (KTP) ibu korban tercatat sebagai warga Kabupaten Nagekeo, bukan sebagai warga Kabupaten Ngada sesuai domisili baru keluarga. Alhasil, permintaan pencairan ditunda hingga persyaratan tersebut dilengkapi. Hingga hari nahas itu tiba, KTP belum diperbaiki sehingga pencairan belum sempat dilakukan.

Keadaan Ekonomi dan Kondisi Keluarga Korban merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Ayahnya sudah meninggal saat ia masih kecil, dan sejak itu dirinya diasuh oleh neneknya yang sudah lanjut usia (sekitar 80 tahun) di rumah kebun sederhana. Sementara itu, ibunya tinggal terpisah bersama keluarga tiri dan empat saudara lainnya. Kondisi inilah yang dianggap alat pendorong psikologis tragisnya keputusan sang anak.

Sebelum Ditemukan, Korban Tak Masuk Sekolah Pada hari kejadian, korban tidak hadir di sekolah dan pergi ke kebun neneknya. Beberapa warga yang bertemu sempat menanyakan kenapa ia tak bersekolah, dan korban menjawab bahwa ia sakit kepala. Namun, ketika warga kembali lewat, ia sudah ditemukan tak bernyawa di bawah pohon cengkeh dekat pondok tempat ia tinggal.

Reaksi Pemerintah dan Publik Pihak Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan turut berduka atas kejadian ini dan menegaskan bahwa kematian siswa ini melibatkan banyak faktor, termasuk kondisi emosional dan kebutuhan dukungan psikososial.