Orang Tua Jadi Korban Amukan Anak ODGJ di Kotim, Putus Obat Picu Tragedi Kekerasan Fisik
WARTABANJAR.COM, SAMPIT – Insiden memilukan mengguncang Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Seorang orang tua harus menjadi korban kekerasan oleh anak kandungnya sendiri yang berstatus Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), setelah kondisi kejiwaan sang anak memburuk akibat putus obat.
Peristiwa ini terjadi karena stok obat rutin pasien habis dan belum sempat diambil kembali ke RSUD dr. Murdjani, Sampit. Tanpa asupan obat yang stabil, kondisi mental pasien dilaporkan mengalami penurunan drastis hingga berujung pada perilaku agresif yang membahayakan orang terdekat, termasuk orang tuanya sendiri.
Padahal, petugas kesehatan dari wilayah Kota Besi diketahui rutin melakukan pemantauan lapangan. Namun, kendala logistik dan keterbatasan akses pengambilan obat menjadi celah serius dalam rantai pengobatan. Ketika terapi medis terputus, risiko kekambuhan dan tindakan di luar kendali pun tak terhindarkan.
Kejadian ini menjadi alarm keras bagi keluarga, perangkat desa, hingga pemerintah daerah. Ketersediaan obat bagi penderita gangguan jiwa tidak boleh terputus, mengingat dampaknya bukan hanya pada pasien, tetapi juga keselamatan keluarga dan lingkungan sekitar. Dukungan transportasi, sistem titip obat, hingga pendampingan berkelanjutan dinilai mendesak untuk diterapkan.
Insiden tersebut memicu gelombang reaksi emosional dari warganet. Banyak yang mengaku sedih, marah, dan mempertanyakan peran negara dalam menjamin penanganan ODGJ. Sejumlah komentar menyoroti minimnya pertolongan di lokasi kejadian, bahkan menyayangkan tindakan merekam peristiwa alih-alih memberikan bantuan langsung.
Tak sedikit pula netizen yang mempertanyakan apakah ODGJ telah sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah, serta menyerukan perlunya tindakan nyata agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Tragedi ini pun dinilai sebagai potret buram lemahnya sistem perlindungan bagi keluarga yang hidup berdampingan dengan penderita gangguan jiwa.
Peristiwa di Kotawaringin Timur ini menjadi pengingat bahwa penanganan ODGJ bukan semata urusan medis, melainkan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kehadiran negara, kepedulian sosial, dan sistem pendukung yang benar-benar berjalan.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad