Dua Dekade Menjaga Rasa: Kisah Ibu Irus dan Rujak Cingur Arto Moro yang Tak Pernah Sepi

WARTABANJAR.COM, PELAIHARI – Di tengah menjamurnya kuliner kekinian dengan konsep modern dan tampilan serba estetik, sebuah warung makan sederhana di kawasan Angsau, Kecamatan Pelaihari, justru membuktikan bahwa rasa jujur dan konsistensi adalah kunci keabadian. Warung itu bernama Rujak Cingur Arto Moro.

Berdiri sejak 2003, warung ini jauh dari kesan mewah. Bangunannya bersahaja, tanpa dekorasi mencolok. Namun, hampir setiap hari, kepulan asap dapur dan antrean pelanggan setia menjadi pemandangan yang tak pernah absen, Rabu (21/01/2026).

Kesederhanaan yang Bertahan Melintasi Zaman

Lebih dari dua dekade bertahan bukan perkara mudah, terutama bagi pelaku usaha mikro. Namun bagi Ibu Irus, pemilik Warung Rujak Cingur Arto Moro, kesederhanaan justru menjadi identitas yang tak tergantikan.

“Sudah lama banget sejak 2003. Dulu jualan di PTP, di pabrik gula,” kenang Ibu Irus saat berbincang dengan Wartabanjar.com.

Perjalanan usahanya tidak selalu berada di satu tempat. Ia pernah berpindah-pindah lokasi sebelum akhirnya menetap di kawasan Angsau. Meski begitu, satu hal yang tak pernah berubah adalah kesetiaan pelanggan yang terus mengikuti ke mana pun warung ini berlabuh.

Keputusan menjual rujak cingur pun lahir dari kejelian melihat peluang.

“Alasannya karena di Pelaihari waktu itu tidak ada yang jual rujak cingur seperti di Jawa,” ujarnya.

Resep Keluarga dan Petis dari Pulau Seberang

Cita rasa khas yang membuat Arto Moro bertahan hingga kini ternyata berakar dari resep keluarga. Ibu Irus mengungkapkan bahwa resep rujak cingur yang digunakannya merupakan warisan dari sang mertua.

“Untuk resep usaha ini dari ibu mertua saya, asli Tanah Laut,” tuturnya dengan nada bangga.