Namun, menjaga rasa autentik bukan hanya soal resep. Ibu Irus dikenal sangat selektif dalam memilih bahan baku, terutama untuk bumbu inti rujak cingur.
Demi mempertahankan aroma dan rasa yang khas, ia rela mendatangkan petis langsung dari Jawa, bukan dalam jumlah kecil.
“Tipsnya karena kami datangkan petis langsung dari Jawa dan pesan ke pabriknya. Sekali pesan bisa 40 kilogram untuk tiga bulan,” bebernya.
Perpaduan resep turun-temurun dengan bahan baku pilihan inilah yang membuat menu-menu di Arto Moro memiliki karakter kuat. Mulai dari Rujak Cingur (Rp22.000), Soto Ayam (Rp23.000), Soto Babat, hingga Rawon (Rp28.000), semuanya punya tempat tersendiri di hati pelanggan.

Syukur di Balik Kepulan Asap Dapur
Warung ini dikelola secara sederhana bersama keponakan Ibu Irus. Meski ramai, manajemen waktu tetap dijaga. Arto Moro buka setiap hari pukul 10.00 hingga 16.30 WITA, dan memilih tutup setiap hari Jumat untuk beristirahat.
Melihat warungnya yang terus hidup dan dicintai pelanggan, rasa syukur menjadi kalimat yang paling sering terucap.
“Alhamdulillah warung ramai. Harapannya semoga ke depan makin ramai lagi dan pelanggan makin suka dengan masakan kami,” ucapnya tulus.
Kisah Ibu Irus dan Warung Rujak Cingur Arto Moro menjadi bukti bahwa kejujuran rasa, kesabaran, dan konsistensi mampu mengalahkan zaman. Di balik kesederhanaan tempatnya, tersimpan keteguhan hati yang menjaga cita rasa selama lebih dari dua dekade.(Wartabanjar.com/Gazali)
editor: nur_muhammad







