Hingga pernyataan dirilis, Senegal mengaku belum mendapatkan kepastian lokasi latihan alternatif. Situasi ini menimbulkan “pertanyaan serius tentang keadilan olahraga”, termasuk kekhawatiran potensi pemantauan taktis oleh pihak lawan.
Alokasi Tiket Diprotes
FSF juga mempersoalkan jumlah tiket yang diberikan kepada pendukung Senegal. Dari kapasitas 69.500 kursi Stadion Prince Moulay Abdellah, Senegal hanya mendapat 2.850 tiket, sesuai batas maksimum yang ditetapkan CAF.
“Jumlah ini tidak mencukupi mengingat tingginya permintaan. Kami menyesalkan pembatasan tersebut karena merugikan publik Senegal,” tulis FSF.
Seruan kepada CAF
Melalui pernyataan terbuka ini, FSF mendesak CAF dan panitia lokal untuk segera mengambil langkah korektif guna menjamin perlakuan setara, keamanan, dan integritas kompetisi.
FSF menegaskan bahwa komplain ini disampaikan demi transparansi serta untuk melindungi kepentingan Timnas Senegal, bukan untuk menciptakan polemik menjelang final.
Maroko sendiri dipastikan kembali mendapat dukungan masif publik tuan rumah, sebagaimana yang mereka rasakan sejak fase grup hingga semifinal. Laga final ini pun sarat gengsi, mengingat Maroko sudah menanti gelar juara Afrika selama 50 tahun, sementara Senegal terakhir kali mengangkat trofi pada 2021.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad







