Dalam orasinya, seorang mahasiswa menegaskan bahwa kehadiran mereka bukan membawa kepentingan kelompok, melainkan suara masyarakat.
“Kami atas nama masyarakat menolak wacana tersebut. Pilkada adalah mandat dari rakyat, bukan hasil lobi-lobi atau konsolidasi elit di dalam sana,” ujarnya lantang.
Kata-kata itu menggambarkan keresahan generasi muda terhadap masa depan demokrasi lokal. Bagi mereka, memindahkan hak pilih dari rakyat ke ruang sidang DPRD sama artinya dengan menarik kedaulatan ke tangan segelintir orang.
Menunggu di Depan Pintu Kekuasaan
Hingga aksi berlangsung, mahasiswa tetap bertahan di depan gedung DPRD Kalsel. Spanduk tuntutan terbentang, suara orasi tak henti bergema, seolah menjadi pengingat bahwa demokrasi tak boleh berjalan tanpa rakyat.
Bagi para mahasiswa, pertemuan dengan Ketua DPRD bukan sekadar formalitas. Itu adalah simbol: apakah suara rakyat masih layak didengar, atau hanya akan menjadi gema di depan pintu kekuasaan.(Wartabanjar.com/Iqnatius)
editor: nur_muhammad







