Kabar Duka, Mantan Wali Kota Banjarmasin HM Effendi Ritonga Tutup Usia

Akhirnya Ser Ma Tar Effendi yang menjadi Komandan Resimen Korps Taruna, sementara Pierre ditunjuk sebagai Komandan Batalyon Korps Taruna Remaja yang membina adik-adik taruna tingkat satu.

Saat pesiar pada suatu waktu di tahun 1960, Ser Tar Effendi Ritonga berjalan kaki berdua Ser Tar Pierre menuruni Jalan Ciumbuleuit Bandung.

Sepanjang jalan Pierre bercerita bahwa keluarganya adalah satu-satunya keluarga campuran yang selamat dari gilasan Revolusi Sosial pasca perang kemerdekaan di Magelang dan Semarang.

Saat itu keluarga-keluarga “Indo” ditangkap-tangkapi karena kuat afiliasinya dengan Belanda/Sekutu, tetapi keluarga Tendean disegani masyarakat karena sumbangsihnya yang berarti dalam membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Brigjen Effendi Ritonga mencatat bahwa Pierre pria yang ganteng dan banyak diminati kaum perempuan.

Dari Pierre sendiri, Effendi mendengar kisah ada 5 gadis SMA negeri di Dago Bandung yang sedang memperebutkan perhatian Pierre kala itu. Namun Pierre hanya mengganggap mereka semua teman biasa dan lebih mengutamakan pendidikannya.

Masih jelas di ingatan Effendi, jawaban Pierre yang tegas dan tajam saat membalas olokan ‘Bule, Londo, atau Indo’ dari rekan-rekan sesama taruna. Seruan yang mengukuhkan nasionalismenya

“Jangan macam-macam kamu. Rasa kebangsaan aku mungkin lebih tebal dari pada kamu yang mengaku pribumi,” tukas Pierre.
(Wartabanjar.com/berbagai sumber)

Editor Restu