WARTABANJAR.COM – Pemerintah Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, kembali mencuri perhatian publik lewat film promosi daerah berjudul TALA: When Love Calls From The Bottom of Borneo. Film ini menjadi gebrakan baru dalam upaya mengenalkan pesona Tanah Laut ke panggung nasional hingga internasional melalui medium perfilman.
Dibintangi Marcel Chandrawinata, Amara Angelica, serta Putri Pariwisata Indonesia 2022 Bella Devita, film TALA resmi tayang perdana pada Agustus 2023 dan melanjutkan pemutaran terbatas di sejumlah bioskop Kalimantan Selatan, termasuk Studio XXI Duta Mall Banjarmasin pada September 2023.
Bupati Kabupaten Tanah Laut yang saat itu dijabat Sukamta menegaskan, film ini bukan sekadar tontonan hiburan, tetapi menjadi senjata promosi strategis untuk mengangkat citra pariwisata daerah.
“Tanah Laut memiliki potensi wisata paling lengkap di Kalimantan Selatan, mulai dari pantai, pegunungan, hingga hutan. Melalui film, kami ingin memperkenalkan kekayaan ini kepada wisatawan nasional dan mancanegara,” ujar Sukamta.

BACA JUGA: Anggaran Rp5 Miliar Jadi Sorotan, Kejaksaan Kejar Audit BPKP Terkait Film Promosi Tanah Laut
Surga Wisata yang Selama Ini Tersembunyi
Film TALA menampilkan deretan destinasi unggulan Tanah Laut, seperti Pantai Batakan Baru, Pantai Takisung, Pantai Swarangan, Air Terjun Balangdaras, upacara adat Balian, hingga Bukit Teletubbies yang ikonik. Seluruh lokasi divisualisasikan dengan pendekatan sinematik yang kuat, menghadirkan nuansa romantis, alami, sekaligus autentik.
Selama ini, Tanah Laut memang lebih dikenal oleh masyarakat lokal Kalimantan Selatan. Melalui film ini, Pemkab Tanah Laut berharap pamor daerahnya mampu menembus batas regional dan menjadi destinasi favorit wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Dorong Industri Kreatif Lokal
Tak hanya mengangkat pariwisata, film TALA juga menjadi panggung bagi talenta lokal. Sekitar 75 persen pemeran dalam film ini merupakan aktor dan aktris asal Tanah Laut. Langkah ini dinilai mampu menghidupkan industri kreatif daerah sekaligus membuka peluang bagi generasi muda lokal di dunia perfilman.
Sukamta bahkan optimistis, jika separuh dari 514 kabupaten dan kota di Indonesia melakukan hal serupa, industri perfilman nasional akan berkembang jauh lebih pesat.














