Produksi Cepat, Dukungan Total
Sutradara Joko Nugroho mengungkapkan, skenario film ini hanya diselesaikan dalam waktu tiga hari, jauh lebih singkat dibanding proses normal yang biasanya memakan waktu hingga tiga bulan.
“Seluruh tantangan produksi terasa ringan karena dukungan penuh dari Pemkab Tanah Laut dan masyarakat setempat,” kata Joko.
Ia juga mengapresiasi komitmen pemerintah daerah yang mendorong keterlibatan aktor lokal, sekaligus mengajak para sineas Indonesia untuk lebih berani mengangkat potensi daerah melalui film.
Alur Cerita Sarat Pesan Cinta Daerah
When Love Calls From The Bottom of Borneo mengisahkan kehidupan masyarakat Tanah Laut yang berpadu dengan keindahan alamnya. Cerita disajikan secara natural tanpa banyak rekayasa, menonjolkan keseharian warga, budaya lokal, serta pesona alam yang masih jarang tersentuh kamera.
Fokus utama film ini adalah menumbuhkan rasa cinta masyarakat terhadap daerahnya sendiri, sekaligus membangkitkan rasa penasaran penonton dari luar untuk datang langsung ke Tanah Laut.
Sudah Tayang, Namun Terbatas
Film TALA telah resmi dirilis sejak Agustus 2023 dan diputar secara terbatas untuk kepentingan promosi pariwisata. Hingga kini, film tersebut belum mendapatkan penayangan nasional secara luas, namun kerap diputar dalam berbagai agenda lokal dan kegiatan promosi daerah.
Bagi masyarakat yang penasaran, film ini dapat ditemukan melalui pemutaran khusus di Kalimantan Selatan atau platform promosi daerah yang dikelola pemerintah setempat.
Dengan pendekatan emosional, visual memukau, serta muatan lokal yang kuat, TALA: When Love Calls From The Bottom of Borneo menjadi bukti bahwa film mampu menjadi jembatan efektif untuk mengangkat potensi daerah ke mata dunia.
Tanah Laut tak lagi sekadar nama di peta, tetapi destinasi yang kini mulai memanggil cinta dari dasar Borneo.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad







