TERKUAK! Penembak di Bondi Beach Ternyata Latihan Militer di Asia Tenggara Sebulan Sebelum Serangan Tewaskan 16 Orang
Penyelidikan juga mengungkap bahwa Naveed Akram sebenarnya pernah menjadi perhatian badan intelijen Australia, ASIO, pada 2019. Saat itu, Naveed yang masih berusia 18 tahun diselidiki terkait hubungannya dengan sejumlah simpatisan ISIS yang berbasis di Sydney.
Sumber keamanan menyebut Naveed menunjukkan indikasi niat serta pola pergaulan yang dianggap mengkhawatirkan. Namun, penyelidikan lanjutan kala itu tidak dilanjutkan karena dinilai belum memenuhi ambang ancaman serius.
Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, mengakui bahwa sejak penyelidikan ASIO tersebut, telah terjadi perubahan drastis pada profil Naveed Akram.
Sebelumnya, aparat juga menemukan dua bendera ISIS di dalam mobil milik keluarga Akram di kawasan Bondi Beach. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa kedua pelaku telah menyatakan sumpah setia kepada kelompok teroris tersebut.
Meski memiliki jejak mengkhawatirkan, Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyatakan bahwa menjelang serangan, baik Sajid maupun Naveed Akram tidak masuk dalam daftar pantauan terorisme.
Dalam wawancara dengan program 7.30, Albanese menyebut ASIO tidak menemukan bukti kuat selama enam bulan penyelidikan yang menunjukkan keduanya telah teradikalisasi secara aktif.
Sajid Akram sendiri diketahui sebagai pemilik senjata api berlisensi, sehingga secara hukum tidak ada larangan baginya untuk mengakses senjata tersebut sebelum tragedi terjadi.
Kini, fakta-fakta baru ini memicu kritik tajam terhadap sistem deteksi dini dan pengawasan terorisme di Australia, sekaligus membuka pertanyaan besar: bagaimana pelaku dengan jejak ekstremisme dan pelatihan militer bisa lolos hingga melakukan serangan mematikan di ruang publik.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad