“SIGAP itu bukan proyek jangka pendek, tapi langkah kecil yang menumbuhkan perubahan besar di keluarga,” katanya.
Sementara itu, Achmadi, District Coordinator Keluarga SIGAP, menambahkan desa di Banjar diharapkan bisa melanjutkan program secara mandiri melalui dukungan dana desa.
“Dana desa sangat penting agar program tidak berhenti di tengah jalan,” ucapnya.
Dari sisi kebijakan, Sappe MP Sirait dari Kementerian Desa PDTT menjelaskan, pihaknya terus mendorong pemanfaatan dana desa untuk memperkuat layanan kesehatan dasar.
“Kami ingin setiap desa punya akses kesehatan yang lebih baik, termasuk imunisasi, CTPS, dan pemenuhan gizi,” ujarnya.
Senada, Fara Hayani, Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappedalitbang Banjar, menyebut program SIGAP sejalan dengan prioritas daerah dalam menurunkan stunting dan membangun fondasi keluarga sehat.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Banjar, dr. Widya Wiri Utami, menegaskan, dampak program ini mulai terlihat dari meningkatnya capaian imunisasi, kebiasaan CTPS, dan pemberian nutrisi pada baduta.
“Untuk tahun 2026, kami siapkan strategi agar program ini semakin terintegrasi dan berkelanjutan,” tegasnya. (wartabanjar.com/IKhsan)
Editor Restu







