BARU TERUNGKAP! Kisah Detik-Detik Ahmad Sahroni Sembunyi di Plafon Lalu Jebol Saat Rumah Dijarah Massa!
WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Siapa sangka, di balik penjarahan rumah mewah milik anggota DPR RI nonaktif Ahmad Sahroni pada Sabtu (30/8) lalu, tersimpan kisah menegangkan. Ternyata, Sahroni ada di dalam rumah saat massa menyerbu!
Fakta mencengangkan itu diungkap oleh Imam, kerabat dekat Sahroni yang turut berada di lokasi kejadian. Menurut Imam, ada delapan orang di rumah yang berlokasi di kawasan Kebon Bawang, Tanjung Priok, termasuk dirinya, istrinya, dua asisten rumah tangga, seorang adik, staf, teman, dan tentu saja—Sahroni sendiri.
“Kami semua memantau dari CCTV. Saat itu Pak Sahroni duduk di meja makan,” ujar Imam, Rabu (5/11/2025).
Suasana tiba-tiba berubah mencekam ketika massa mulai melempari kaca rumah dan meledakkan petasan jenis air mancur di halaman depan.
“Bunyi dar-der-dor terus. Saya langsung bilang, ‘Ndan, ini sudah anarkis!’” kata Imam menceritakan detik-detik chaos tersebut.
Mengetahui situasi makin berbahaya, Imam segera mengevakuasi enam orang lainnya keluar lewat jalur belakang rumah. Mereka bahkan mendobrak jalan menuju rumah tetangga demi menyelamatkan diri.
Namun, berbeda dengan yang lain, Ahmad Sahroni memilih bertahan di dalam rumah.
Drama di Tengah Malam: Sembunyi di Plafon
Menurut Imam, Sahroni sempat mengunci diri di kamar pribadinya, lalu menahan lift menuju rooftop agar tak bisa diakses dari bawah. Namun ketika suara massa semakin dekat dan kaca rumah pecah, ia berlari ke kamar mandi dan naik ke plafon untuk bersembunyi.
“Dia naik ke plafon kecil sekali, tapi plafonnya jebol, jatuh, keluar debunya. Akhirnya dia tetap sembunyi di situ sampai malam,” ungkap Imam.
Sahroni bertahan hingga situasi benar-benar reda. Ia baru keluar dari persembunyiannya menjelang dini hari.
Muncul dan Sapa Warga
Setelah insiden itu, Sahroni lama tak terlihat publik. Baru pada Minggu (2/11/2025), Bendahara Umum Partai NasDem itu akhirnya muncul di acara pengajian lingkungan rumahnya. Ia menyapa warga, ulama, hingga pejabat RW dan lurah, sambil menceritakan ulang kronologi kejadian yang nyaris merenggut nyawanya.