WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Dunia maya kembali diguncang kabar fenomenal! Kata “galgah”, yang semula hanya lelucon di TikTok dan Instagram, kini resmi terdaftar dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Hebohnya lagi, istilah ini kini diakui sebagai lawan kata dari “haus”—sejajar dengan kata baku palum!

Dalam KBBI Daring Edisi VI, galgah diartikan sebagai: “(sudah) lega atau segar kerongkongan karena minum; tidak dahaga; palum.”
Artinya, masyarakat Indonesia kini punya dua kata sah untuk menyebut rasa “sudah tidak haus”: galgah dan palum.

“Awalnya kata ini muncul dari komentar warganet saat kami membahas palum. Banyak yang bilang, ‘loh, bukannya sudah ada kata galgah?’ Nah, dari situlah proses validasinya dimulai,” jelas Hafidz Muksin, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jumat (31/10/2025).

Menurut Hafidz, “galgah” tergolong onomatope—kata tiruan bunyi yang muncul secara spontan di dunia digital tanpa akar bahasa daerah tertentu. Karena frekuensi penggunaannya tinggi sejak Juni 2025, kata ini akhirnya disetujui dalam pembaruan KBBI Oktober 2025.

Meski galgah kini diakui, “palum” tetap ditetapkan sebagai istilah baku. Kata ini berasal dari bahasa Batak dan telah didokumentasikan sejak 2024 sebagai kosakata daerah yang memperkaya Bahasa Indonesia.

“Penetapan palum sebagai baku adalah bentuk penghormatan terhadap keragaman bahasa daerah,” tegas Hafidz.

Sosok di Balik Kata “Galgah”: Bunga Reyza, Kreator Muda TikTok!

Tak disangka, pencipta kata yang kini viral ini adalah Bunga Reyza (22), penyanyi sekaligus kreator konten asal Indonesia. Lewat akun TikTok-nya @bungareyzaa, ia pertama kali melempar ide “galgah” dalam video bercanda.

“Lawan kata lapar itu kenyang, tapi haus belum ada. Jadi, kita bikin sendiri aja — galgah!” ujarnya dalam video yang kini ditonton jutaan kali.

Contoh percakapan versi Bunga pun ikut viral:

“Mau minum nggak?”
“Nggak dulu, udah galgah.”

Ungkapan ringan itu menjadi fenomena sosial dan akhirnya menembus ranah resmi kebahasaan.

Masuknya galgah ke KBBI disambut gegap gempita oleh warganet. Banyak yang tak menyangka bahwa candaan TikTok bisa berujung jadi sejarah linguistik.