“Adalah hal normal bagi dua negara besar untuk mengalami perbedaan. Yang penting adalah bagaimana kita dapat bekerja sama membangun fondasi kokoh bagi hubungan Tiongkok-AS,” tutur Xi.
Pertemuan tersebut membawa angin segar bagi stabilitas ekonomi global. Selama berbulan-bulan terakhir, AS dan China saling memberlakukan tarif tinggi, pembatasan ekspor, serta sanksi ekonomi yang menghantam berbagai sektor strategis — mulai dari teknologi tinggi hingga logam tanah jarang.
Bahkan, kebijakan terbaru kedua negara yakni pengenaan tarif khusus terhadap kapal asing di pelabuhan masing-masing sempat memperkeruh situasi perdagangan internasional.
Kini, setelah pertemuan dua pemimpin dunia itu, banyak pihak berharap dialog di Busan menjadi awal dari babak baru perdamaian ekonomi global, sekaligus menandai berakhirnya perang dagang paling panas dalam sejarah modern.(Wartabanjar.com/nurmuhammad)
editor: nur muhammad







